Internasional

Investigasi Serangan AS ke Sekolah Iran Mogok, Pentagon "Masuk Angin"?

tfa, CNBC Indonesia
Jumat, 17/07/2026 13:35 WIB
Foto: (via REUTERS/Abbas Zakeri/Mehr News/WANA)

Jakarta, CNBC Indonesia - Investigasi internal militer Amerika Serikat (AS) terkait serangan yang menghantam Sekolah Shajareh Tayyiba di Minab, Iran, dilaporkan mengalami penundaan selama berbulan-bulan. Tiga sumber yang mengetahui proses tersebut mengatakan Pentagon belum memerintahkan tahap ketiga peninjauan intelijen yang lazim dilakukan setelah operasi militer besar, sehingga evaluasi menyeluruh atas insiden itu belum berjalan.

"Tidak ada analisis terperinci yang dilakukan dan CENTCOM mengunci investigasi serta memblokir siapa pun untuk menyelidikinya," kata salah satu sumber, seperti dikutip CNN International, Jumat (17/7/2026).

Sementara itu, pejabat Departemen Pertahanan AS hanya menyatakan bahwa "investigasi sedang berlangsung" dan belum ada pengumuman lebih lanjut mengenai perkembangan kasus tersebut.


Menurut sumber-sumber itu, dua tahap awal battle damage assessment (BDA) telah rampung dalam sepekan setelah serangan dan menunjukkan bahwa militer AS memang bertanggung jawab atas serangan yang mengenai sekolah tersebut.

Namun, fase ketiga yang biasanya dilakukan oleh Badan Intelijen Pertahanan (DIA) untuk menganalisis citra satelit dan berbagai informasi intelijen secara menyeluruh hingga awal Juli belum juga diperintahkan.

Sumber tersebut menilai investigasi independen yang diluncurkan pada Maret seharusnya tidak menghambat peninjauan intelijen oleh DIA.

"Keduanya dapat berjalan bersamaan jika mereka memilihnya," ujar salah satu sumber. Ia menambahkan, hasil analisis DIA memang tidak menentukan pihak yang bersalah, tetapi dapat menjadi bukti penting dalam proses investigasi.

Seorang pejabat AS membela langkah Pentagon dengan menyebut investigasi internal dirancang untuk menggantikan penilaian fase ketiga BDA. Menurutnya, setelah laporan awal diserahkan kepada Komando Pusat AS (CENTCOM) pada April, penyelidikan membutuhkan waktu lebih lama karena dugaan penyebab kesalahan telah berlangsung selama bertahun-tahun dan melibatkan berbagai lapisan kegagalan.

Berdasarkan temuan awal, militer AS diduga keliru menggunakan intelijen yang sudah usang mengenai lokasi target yang diyakini sebagai pangkalan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran. Akibatnya, serangan justru menghantam sekolah dasar tersebut. Media pemerintah Iran mengklaim insiden itu menewaskan 168 anak dan 14 orang dewasa.

Media sebelumnya melaporkan bahwa sejumlah komandan senior AS mengabaikan peringatan dalam basis data intelijen yang menyebut informasi mengenai target sudah kedaluwarsa. Dua sumber mengatakan keputusan itu diambil demi alasan "kepraktisan" agar target dapat segera disiapkan pada awal konflik, namun justru berkontribusi pada salah sasaran.

"Pentagon sedang melakukan pengendalian kerusakan," kata salah satu sumber. Ia menilai pimpinan Pentagon dan CENTCOM berupaya menghindari terulangnya situasi ketika analisis DIA terhadap serangan AS ke fasilitas nuklir Iran sebelumnya bertentangan dengan klaim Presiden Donald Trump mengenai keberhasilan operasi tersebut.

Laporan itu disebut memicu kemarahan Gedung Putih dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth, serta berujung pada pencopotan Direktur DIA saat itu, Jenderal Jeffrey Kruse.

Penundaan penyelesaian investigasi memicu protes anggota Kongres AS. Sekitar dua lusin senator Demokrat dalam surat kepada Hegseth dan Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper menyatakan, "Lebih dari empat bulan setelah serangan itu, Kongres dan rakyat Amerika masih belum menerima hasil investigasi Departemen. Tidak ada alasan untuk menahan laporan yang tidak diklasifikasikan mengenai apa yang terjadi, apa yang salah, dan langkah pencegahannya di masa depan."

Dalam wawancara terbaru dengan Fox News, Trump menolak berkomitmen untuk mempublikasikan hasil investigasi.

"Saya harus berbicara dengan para jenderal. Saya rasa tidak akan pernah ada laporan yang benar-benar konklusif," ujarnya.

Trump juga mengakui ada kemungkinan penggunaan intelijen lama berkontribusi terhadap insiden tersebut, tetapi meragukan bukti yang beredar di publik, termasuk citra satelit yang menunjukkan pecahan rudal AS di lokasi serangan, dengan menyebut gambar tersebut bisa saja dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI) tanpa menyertakan bukti pendukung.


(tfa/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: AS Gempur Pangkalan AL Iran Pakai Drone Laut untuk Pertama Kali