Cukong-Cukong Tanah Muncul di Proyek Gas Masela, Ini Peringatan Bahlil

Romys Binekasri, CNBC Indonesia
Kamis, 16/07/2026 18:40 WIB
Foto: Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia Saat menyampaikan laporan jelang Groundbreaking Proyek Strategis Nasional Liquefied Natural Gas (LNG) Abadi Masela, Maluku, Kamis (16/7/2026). (Tangkapan Layar Youtube/Sekretariat Presiden)

Maluku, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengakui adanya fenomena munculnya spekulan atau "cukong" tanah di kawasan proyek Lapangan Gas Abadi, Blok Masela di Kepulauan Tanimbar, Maluku.

Oleh sebab itu, ia pun meminta kepada SKK Migas untuk membedakan perlakuan terhadap pemilik lahan asli dengan pihak-pihak yang baru membeli lahan setelah proyek mulai berjalan.

Bahlil pun memerinci, setidaknya terdapat tiga kategori kepemilikan lahan di wilayah proyek Blok Masela.


"Saya tahu di sini ada abuleke (istilah lokal untuk spekulan/cukong). Saya membagi tiga klasifikasi. Yang pertama adalah betul lahan yang punya masyarakat yang secara turun-temurun dia punya. Itu pertama. Yang kedua adalah lahan masyarakat yang mungkin pada saat dulu dia punya cucu, dia punya anak mau kuliah, butuh uang, terus dia jual ke masyarakat setempat. Yang ketiga adalah masyarakat yang sudah jual kepada orang di saat proyek ini baru mau jalan," jelasnya saat ditemui usai acara groundbreaking Proyek LNG Abadi Blok Masela di Kepulauan Tanimbar, Maluku, Kamis (16/7/2026).

"Saya sudah meminta kepada SKK Migas perlakuannya harus beda. Itu yang kau maksudkan kan? Jadi tidak boleh kita menjual hak kesulungan kepada orang yang punya bukan hak kesulungan. Ya itu sudah, filosofi banget itu," tegas Bahlil.

Seperti diketahui, Presiden Prabowo Subianto baru saja meresmikan prosesi peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan proyek gas "raksasa" Lapangan Abadi, Blok Masela di Kepulauan Tanimbar, Maluku, Kamis (16/7/2026).

Presiden Prabowo meresmikan secara virtual dari Istana Negara di Jakarta, sementara sejumlah pejabat, seperti Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto, serta Bupati Kepulauan Tanimbar Ricky Jauwerissa hadir langsung di lokasi di Kepulauan Tanimbar, Maluku.

Acara ini juga disaksikan langsung oleh CEO Inpex Corporation Takayuki Ueda. Inpex merupakan operator dan juga pemilik hak partisipasi (Participating Interest/PI) mayoritas di Blok Masela ini, yakni sebesar 65%.

Presiden Prabowo mengatakan, pihaknya bersyukur, setelah hampir tiga dekade menunggu, akhirnya Proyek Strategis Nasional (PSN) ini mulai dibangun juga.

"Pembangunan suatu bangsa adalah upaya kerja keras suatu bangsa, adalah perjalanan yang sangat jauh, yang membutuhkan persatuan semua unsur, semua elemen, dengan demikian proyek strategis nasional Abadi Masela ini merupakan suatu proyek yang sungguh sangat penting," ungkapnya.

"Proyek ini hampir 3 dekade 3 dasawarsa, kita tunggu. 3 dekade 3 dasawarsa rakyat menunggu. Alhamdulillah hari ini kita mulai pembangunan, dan pembangunan tidak boleh terhambat harus selesai dalam waktu sesingkat-singkatnya," ujarnya.

"Kita punya segala sumber daya untuk itu punya kapasitas anak-anak kita tidak kalah pintar dan saya sudah merencanakan dan melihat rencana riil kita bertekad untuk menjadi negara industri negara modern kita bertekad rakyat kita hidup dengan baik. Kita butuh uang untuk memberikan pelayanan kesehatan baik, membayar gaji guru sehingga sekolah kita tidak kalah dengan di luar negeri, kita butuh uang untuk membayar semua pegawai negeri kita butuh uang untuk membangun prasarana yang penting untuk kehidupan modern," bebernya.

"Dengan demikian, proyek ini penting, saya menghargai dimulainya proyek ini, tadi disinggung proyek ini investasi besar US$ 20,9 miliar, hampir US$ 21 miliar akan menghasilkan lebih dari 9 juta ton gas kondensat dan sebagainya, sehingga ini akan sangat membantu bangsa Indonesia melaksanakan pembangunan," tuturnya.

"Kita harus melakukan hilirisasi dan hilirisasi ini membutuhkan energi, energi kita sangat banyak hanya 2-3 tahun masa transisi dan kebetulan di tengah dunia yang penuh bahaya sekarang Indonesia cukup punya ketahanan kita antisipasi kita punya langkah-langkah untuk bisa membawa Indonesia dalam keadaan yang baik," ujarnya.

"Saya yakin proyek ini nanti akan jadi pendorong kemajuan Indonesia, khususnya Indonesia Timur, ini juga memperkuat kemandirian energi nasional Indonesia dan juga tonggak penting bagi kesejahteraan rakyat Indonesia," ungkap Prabowo.

"Dengan demikian saya ucapkan sekali lagi terima kasih pada Saudara-Saudara, pada rakyat Tanimbar, rakyat Maluku, saya minta maaf saya belum hadir fisik tapi kalaau kepulauan Barat Daya saya sudah 2 kali ke Pulau Moa dan saya berharap Pulau Moa sudah lumayan titik air bersih untuk rakyat Moa," ujarnya.

"Dengan demikian, dan mengucap bismillahirrohmanirrohim, Kamis 16 Juli 2026, dengan rahmat Tuhan yang Maha Besar, saya Prabowo Subianto Presiden RI, saya nyatakan groundbreaking PSN LNG Abadi Masela secara resmi dinyatakan dimulai. Terima kasih," tutupnya.

Profil Blok Masela

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat memberikan laporan terkait proyek Blok Masela ini menjelaskan, bahwa proyek ini sudah dimulai sejak 28 tahun lalu. Bahkan, sudah ditangani oleh 6 Presiden RI. Namun, baru era Presiden Prabowo ini lah proyek gas "raksasa" ini bisa dieksekusi.

"Pada hari ini tepat pada tanggal 16 Juli kita menandai babak baru proyek abadi Masela yang sudah dicanangkan 28 tahun lalu. Sudah 6 presiden, cuma Presiden Prabowo Subianto lah yang bisa eksekusi hari ini," tutur Bahlil saat memberikan laporan langsung pada acara groundbreaking Blok Masela di Kepulauan Tanimbar, Maluku, Kamis (16/7/2026).

"Saya harus sampaikan ke Presiden, project ini sudah lama berkatung-katung perdebatannya antara laut dan darat dan ini perdebatan yang sudah panjang, tapi atas bimbingan arahan Pak Presiden untuk segera mengeksekusi dan memberikan penegasan atas seluruh konsesi perizinan migas yang sudah selesai POD tapi tidak dilaksanakan segera dilakukan instruksi cepat, maka atas dasar itu surat peringatan pertama kepada Inpex kita layangkan," tutur Bahlil.

"Dan alhamdulillah hari ini kita lakukan groundbreaking," tandasnya.

Bahlil menyebut, investasi proyek gas "raksasa" ini diperkirakan mencapai US$ 20,95 miliar atau setara Rp 390 triliun.

"Bapak Presiden, kami laporkan dengan penandaan groundbreaking, pekerjaan mulai berjalan pertama adalah 11 sumur pengembangan ditambah 4 sumur lanjutan, kedua pembangunan fasilitas berbagai macam termasuk pelabuhan dermaga, EPC-nya ini sudah berjalan dan investasi ini kurang lebih US$ 20,95 miliar, ini setara dengan hampir Rp 390 triliun, dan ini menghasilkan 9,5 juta ton lng per tahun dan 35 ribu barel kondensat per hari," paparnya.

Perlu diketahui, Inpex Masela Ltd merupakan pemegang hak partisipasi (Participating Interest/ PI) terbesar di Blok Masela yakni mencapai 65%.

Sebelumnya, Inpex ditemani oleh Shell Upstream Overseas Services dengan saham 35%. Namun sayangnya, Shell memutuskan hengkang dari proyek gas abadi yang berlokasi di Maluku itu.

Adapun 35% saham Shell tersebut sejak Juli 2023 lalu telah diambil oleh PT Pertamina Hulu Energi melalui anak usahanya PT Pertamina Hulu Energi Masela (PHE Masela) sebesar 20% dan Petronas 15%.

Perjanjian jual beli hak partisipasi dari Shell ke Pertamina dan Petronas ini ditandatangani pada 25 Juli 2023 dan persetujuan Menteri ESDM atas pengalihan PI diperoleh pada 4 Oktober 2023.

Lapangan Abadi di Blok Masela adalah lapangan gas laut dalam dengan cadangan gas terbesar di Indonesia yang terletak sekitar 160 kilometer lepas pantai Pulau Yamdena di Laut Arafura dengan kedalaman laut 400-800 meter. Adapun potensi gas dari Lapangan Abadi ini diperkirakan 6,97 triliun kaki kubik (TCF) gas.

Setelah kontrak bagi hasil ditandatangani pada 1998, akhirnya Inpex menemukan cadangan gas jumbo di Blok Masela ini pada tahun 2000.

Setelah 19 tahun kemudian, baru lah Pemerintah Indonesia memberikan persetujuan atas Rencana Pengembangan atau Plan of Development (PoD) pertama (PoD-I) kepada Inpex untuk memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun (MTPA) atau setara 1.200 MMSCFD dari Kilang LNG Masela, dan memproduksi 150 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) gas pipa, serta 35.000 barel per hari (bph) kondensat.

Konsep pengembangan lapangan green field (lapangan migas baru) yang memiliki kompleksitas tinggi dan risiko besar mencakup pengeboran deep water, fasilitas subsea, FPSO (Floating Production Storage and Offloading), dan onshore LNG plant akan menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi PHE serta mitra-mitranya untuk merealisasikannya. Selain itu pengembangan lapangan ini juga berpotensi menyerap hingga 10.000 tenaga kerja.

Blok Masela juga direncanakan akan menghasilkan energi bersih melalui penerapan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon atau Carbon Capture and Storage (CCS) untuk mendukung program Pemerintah dalam mengurangi emisi karbon dan mendukung sustainability pada era transisi energi.

Penerapan CCS ini pun disetujui Pemerintah Indonesia pada 28 November 2023, melalui Revisi 2 PoD-I. Kemudian, dilanjutkan dengan melakukan tender FEED. Hingga akhirnya, Rabu, 9 April 2025, Inpex meluncurkan FEED OLNG ini.


(ven/wia) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Blok Masela Resmi Dibangun, Investasi Setara Rp 390an T