Internasional

Duit Singapura Bakal Banyak Lari ke Malaysia, Ini Alasannya

tps, CNBC Indonesia
Kamis, 16/07/2026 21:50 WIB
Foto: Ilustrasi bendera Malaysia dan Singapura

Jakarta, CNBC Indonesia - Warga Singapura diperkirakan akan membelanjakan uang lebih banyak di Johor Bahru, Malaysia, setelah jalur kereta cepat Johor Bahru-Singapore Rapid Transit System (RTS) Link mulai beroperasi pada Januari 2027. Nilai tambahan belanja lintas negara itu diperkirakan mencapai US$810 juta atau sekitar Rp14,7 triliun per tahun.

Temuan tersebut berasal dari studi yang dirilis pada Kamis (16/7/2026). Studi memperkirakan pengeluaran tambahan warga Singapura di Johor Bahru akan jauh lebih besar dibandingkan tambahan belanja warga Johor Bahru di Singapura.


Sebagai perbandingan, warga Johor Bahru diperkirakan hanya akan menambah pengeluaran sekitar S$756 juta atau sekitar Rp10,5 triliun per tahun di Singapura.

Akibatnya, Singapura diproyeksikan mengalami defisit belanja lintas batas sebesar S$290 juta atau sekitar Rp4 triliunsetiap tahun. Nilai tersebut setara dengan sekitar 0,4% dari total penjualan sektor ritel dan makanan-minuman (F&B) Singapura pada 2025.

Selain meningkatkan nilai belanja, RTS Link juga diperkirakan akan mendorong lonjakan mobilitas masyarakat. Perjalanan warga Singapura ke Johor Bahru diproyeksikan meningkat 51%, atau bertambah sekitar 11,2 juta perjalanan pulang-pergi setiap tahun.

Studi tersebut disusun oleh Singapore Business Federation (SBF) bersama Singapore Retailers Association dan Restaurant Association of Singapore untuk mengukur dampak ekonomi pembukaan RTS Link terhadap pola konsumsi masyarakat, sektor pariwisata, dan dunia usaha.

Ritel Hingga Restoran Paling Terdampak

Laporan tersebut menunjukkan kebutuhan sehari-hari akan menjadi penyumbang terbesar belanja warga Singapura di Johor Bahru. Produk kebutuhan pokok diperkirakan menjadi kategori dengan pengeluaran terbesar, disusul toko obat, restoran, serta layanan kecantikan.

Kondisi ini diperkirakan akan menambah tekanan bagi pelaku usaha ritel dan restoran di Singapura, terutama yang berlokasi di kawasan permukiman. Mereka dikhawatirkan kehilangan pelanggan yang memilih berbelanja di Malaysia karena harga yang lebih murah.

Chief Executive Officer SBF Kok Ping Soon mengatakan pelaku usaha sebenarnya sudah menghadapi berbagai tekanan, mulai dari kekurangan tenaga kerja hingga tingginya biaya sewa dan operasional.

"Harga kebutuhan pokok, toko obat, restoran, dan layanan kecantikan diperkirakan akan menjadi sektor yang paling banyak menarik belanja warga Singapura di Johor Bahru. Banyak pelaku usaha saat ini sudah menghadapi tekanan biaya tenaga kerja, sewa, dan operasional, sehingga kehadiran RTS Link akan menambah tekanan persaingan yang bersifat struktural," ujarnya.

Persaingan Harga Makin Ketat

Pelaku usaha yang disurvei menilai kehadiran RTS Link akan memperketat persaingan, terutama untuk produk dan layanan yang sensitif terhadap harga.

Wilayah pinggiran Singapura diperkirakan menjadi kawasan yang paling besar kehilangan belanja masyarakat. Kawasan barat diproyeksikan mengalami arus keluar belanja bersih sebesar S$104 juta, disusul wilayah timur laut S$103 juta, wilayah utara S$82 juta, dan wilayah timur S$25 juta.

Sebaliknya, kawasan pusat kota Singapura justru diperkirakan memperoleh tambahan belanja sekitar S$25 juta. Hal itu didorong oleh tingginya minat wisatawan terhadap pusat perbelanjaan premium, hotel, restoran, serta hiburan di pusat kota.

Karena itu, banyak pelaku usaha menilai mereka tidak bisa lagi hanya bersaing melalui harga. Peningkatan kualitas layanan, pengalaman pelanggan, serta diferensiasi produk dinilai menjadi strategi utama agar tetap mampu bersaing dengan bisnis di Johor Bahru.


(tps/sef) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Indonesia Tunjuk Danantara Untuk Ekspor Listrik ke Singapura