Presiden Copot Menhan di Tengah Perang, Tuai Kritik dari Publik
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mencopot Menteri Pertahanan Mykhailo Fedorov dalam perombakan besar kabinet. Langkah itu menuai penolakan dari sejumlah mitra internasional dan kelompok masyarakat sipil yang menilai Fedorov seharusnya tetap dipertahankan.
Fedorov mengumumkan pengunduran dirinya melalui Telegram dan menyebut masa jabatannya sebagai sebuah kehormatan. Selama enam bulan memimpin kementerian, pria berusia 35 tahun itu mendapat apresiasi luas karena dinilai berhasil mereformasi sektor pertahanan dan menekan praktik korupsi.
"Merupakan kehormatan besar untuk melayani rakyat Ukraina," tulisnya, seperti dikutip The Guardian, Kamis (16/7/2026).
Dalam pesan perpisahannya, Fedorov memaparkan sejumlah capaian selama menjabat. Ia mengklaim berhasil menonaktifkan akses Starlink yang digunakan pasukan Rusia, mempercepat pengadaan drone untuk menyerang logistik lawan dan mengisolasi wilayah Krimea yang diduduki Rusia, serta mereformasi sistem pengadaan militer. Menurutnya, langkah tersebut telah menghemat anggaran negara hingga "miliaran dolar" atau setara puluhan triliun rupiah.
Pada hari terakhirnya menjabat, Fedorov juga mengungkap keberhasilan uji coba rudal balistik Ukraina. "Kami secara fundamental merevisi persyaratan teknis dan mencapai akurasi maksimum. Kami mengurangi biaya sebesar 30%. Ukraina akan memasuki liga baru," ujarnya.
Masa kepemimpinan Fedorov bertepatan dengan meningkatnya efektivitas operasi militer Ukraina. Dalam beberapa bulan terakhir, Kyiv gencar melancarkan serangan drone jarak jauh ke kilang minyak Rusia, yang disebut-sebut mengganggu pasokan bahan bakar dan meningkatkan tekanan terhadap Moskow.
Hingga kini belum dipastikan apakah Fedorov akan memperoleh posisi baru di kabinet. Pergantian ini berlangsung bersamaan dengan diterimanya pengunduran diri Perdana Menteri Yulia Svyrydenko oleh parlemen Ukraina, setelah Zelenskyy menyatakan pemerintah membutuhkan penyegaran. Kepala perusahaan energi Naftogaz, Serhiy Koretskyi, disebut-sebut menjadi kandidat kuat penggantinya.
Pencopotan Fedorov memicu kritik tajam dari para pendukungnya. Serhii Sternenko, mantan ajudan Fedorov, menilai reformasi yang sedang dijalankan justru dihentikan di tengah jalan.
"Sangat disayangkan negara kita saat ini semakin jauh dari kemenangan. Reformasi nyata bahkan belum diizinkan untuk dimulai, meskipun kita masih berhasil melakukan banyak perubahan," katanya, menuding adanya penundaan yang disengaja dan hambatan birokrasi.
Politisi oposisi Iryna Gerashchenko juga mempertanyakan keputusan tersebut. Sebelum kabar pencopotan dikonfirmasi, ia menyatakan di parlemen, "Bagaimana mungkin satu-satunya penunjukan Zelenskyy yang masuk akal, Menteri Fedorov, berada dalam ketidakpastian hari ini?"
Gelombang dukungan juga membanjiri media sosial. Ribuan warganet menyampaikan kekecewaan atas keputusan Zelenskyy, sementara Wakil Direktur lembaga think tank Politika, Artem Bronzhukov, menilai pergantian menteri pertahanan secara cepat merupakan langkah yang tidak lazim bagi negara yang sedang berperang.
"Hasilnya terlihat jelas dalam serangan jarak menengah. Dengan latar belakang ini, ada kepercayaan yang besar pada Mykhailo Fedorov. Ia didukung oleh mitra Barat kita dan oleh bagian masyarakat yang progresif," ujarnya kepada Radio NV.
(tfa/luc) Add
source on Google