Sistem Perizinan Terintegrasi OSS Tak Terealisasi 2025, Ini Alasannya
Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM membeberkan alasan sistem perizinan berusaha terintegrasi atau Online Single Submission (OSS) pada tahun 2025 lalu belum terealisasi. Alasannya karena program tersebut lantaran gagal lelang yang dipicu oleh keterbatasan waktu eksekusi proyek.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menjelaskan bahwa sisa anggaran kementerian tahun lalu paling banyak berasal dari alokasi untuk sistem OSS. Meski proses lelang sudah diupayakan, para vendor tidak sanggup memenuhi tenggat waktu karena tingkat kompleksitas sistem yang dinilai terlalu tinggi.
"Pengembangan sistem OSS tidak dapat terealisasi karena gagal lelang disebabkan keterbatasan waktu sebesar 26,46 miliar atau 36,56% dari sisa. Anggarannya berasal dari anggaran belanja tambahan yang baru disetujui pada pertengahan tahun 2025," katanya dalam Rapat Kerja Komisi XII DPR RI, Jakarta, Rabu (15/7/2026).
Proyek tersebut awalnya direncanakan menggunakan dana Anggaran Belanja Tambahan (ABT) yang baru cair pada semester II-2025. Hal itu membuat pihaknya hanya memiliki sedikit waktu untuk melakukan seleksi penyedia jasa hingga tahap eksekusinya.
"Proses lelang yang telah kami laksanakan, namun mengingat kompleksitas sistem OSS, tidak terdapat penyedia yang bersedia menyanggupi pekerjaan dengan sisa waktu yang ada," imbuhnya.
Pihaknya mencatat, realisasi belanja Kementerian Investasi dan Hilirisasi pada tahun 2025 mencapai Rp 807,24 miliar atau 91,77% dari total pagu sebesar Rp 879,61 miliar. Selain batal lelang OSS, penyerapan anggaran juga terhambat oleh kebijakan blokir anggaran sebesar Rp 16,75 miliar yang merupakan instruksi presiden untuk efisiensi belanja nasional.
"Adanya blokir anggaran sebesar 16,75 miliar atau 23,14% dari sisa, sesuai Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi Belanja. Anggaran ini tidak dapat digunakan hingga akhir tahun dan berada di luar kendali kementerian kami," paparnya.
Meski pengembangan OSS terhambat, Rosan melaporkan bahwa realisasi investasi nasional tahun 2025 berhasil menembus Rp 1.931,2 triliun, atau 101,3% dari target yang ditetapkan. Pihaknya berkomitmen melakukan perbaikan dengan memperkuat proses pengadaan sejak awal tahun untuk memastikan proyek terlaksana tepat waktu.
"Ke depan kami terus melakukan perbaikan dengan memperkuat pengadaan sejak awal tahun, memperkuat mitigasi risiko kegiatan strategis, dan monitoring serta evaluasi secara berkala," pungkasnya.
(pgr/pgr) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]