Timteng Makin Panas, Rusia Respons Serangan AS Terbaru ke Iran
Jakarta, CNBC Indonesia - Rusia merespons serangan terbaru Amerika Serikat (AS) ke Iran. Menteri Luar Negeri (Menlu) Sergey Lavrov, menyatakan secara tegas bahwa serangan itu telah merusak seluruh upaya untuk menyelesaikan sengketa program nuklir Teheran.
Operasi AS, tegasnya, melanggar kesepakatan memorandum yang baru saja ditandatangani antara Iran dan pemerintahan Presiden Donald Trump bulan lalu. Pernyataan keras tersebut disampaikan langsung oleh Lavrov dalam sebuah konferensi pers bersama setelah mengadakan pembicaraan diplomatik dengan Menteri Luar Negeri Chad, Abdoulaye Sabre Fadoul, di Moskow Selasa waktu setempat.
"Yang paling penting adalah ini tidak mengarah pada penyelesaian. Ini menutup pintu yang, tampaknya, telah dibuka oleh memorandum tersebut," katanya dikutip laman Arab, Middle East Monitor (MEMO), Rabu (15/7/2026).
"Kami melihat ini sebagai pelanggaran terhadap memorandum. Ini sangat disesalkan karena infrastruktur sipil di Iran dan fasilitas sipil di negara-negara Teluk menderita. Ini tidak membawa ke arah yang baik," tambahnya.
Ketegangan ini memuncak setelah AS dan Iran kembali terlibat dalam aksi saling serang sejak pekan lalu. Dalam update Rabu ini mengutip Al-Jazeera, militer AS mengatakan serangkaian serangan lanjutan kembali dilakukan dan menghantam "puluhan target militer di dekat Selat Hormuz dan daerah pesisir Iran".
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup "sampai kejahatan Amerika berakhir". Militer Teheran itu mengancam akan menargetkan jalur ekspor minyak dan gas yang melayani AS dan sekutunya jika konflik berlanjut.
IRGC mengklaim telah menghancurkan pusat komando Armada Kelima AS, fasilitas pendukung, dan tangki bahan bakar di Bahrain, sementara juga menargetkan pusat logistik militer AS utama di Mina Abdullah, Kuwait. Militer Yordania mengatakan pertahanan udaranya mencegat dan menembak jatuh tiga rudal balistik Iran yang melanggar wilayah udara negara itu pada Rabu pagi.
Perlu diketahui, harga minyak naik pagi ini setelah Trump memberlakukan kembali blokade terhadap pelabuhan Iran dan Iran melancarkan serangan balasan terhadap pangkalan AS di kawasan tersebut. Departemen Keuangan AS mengatakan telah membekukan lebih dari US$130 juta (sekitar Rp2,35 triliun) dengan menjatuhkan sanksi kepada beberapa dompet mata uang kripto yang terkait dengan Bank Sentral Iran.
Padahal, di pertengahan Juni ada kesepakatan damai yang imediasi oleh Pakistan untuk mengakhiri perang yang telah meletus sejak Februari lalu secara permanen. Rusia menilai runtuhnya komitmen ini sangat disayangkan karena berdampak buruk langsung pada fasilitas sipil.
(tps/sef) Add
source on Google