Sempat Telat Beroperasi, Ini Kendala Proyek Smelter Milik Amman

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Selasa, 14/07/2026 20:30 WIB
Foto: Smelter PT. Amman Mineral Internasional Tbk. (Tangkapan Layar Youtube Sekretariat Presiden)

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) mengungkapkan berbagai kendala yang sempat menghambat operasional fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) tembaga milik perusahaan di Sumbawa Barat. Gangguan tersebut mencakup kebocoran fasilitas hingga insiden kebakaran ringan pada komponen mesin pemurnian.

Presiden Direktur AMNT Rachmat Makkasau menjelaskan hambatan tersebut terjadi selama fase peningkatan produksi (ramp up) pada periode Februari hingga Agustus 2025. Ia menyebut kendala tersebut membutuhkan waktu perbaikan untuk memastikan aspek keamanannya.

"Terjadi hambatan ya, terjadi kebocoran pada acid cooling kemudian juga terjadi kebocoran yang mengakibatkan kebakaran ringan pada area flash smelting furnace. Itu terjadi di awal tahun 2025 sehingga menghambat produksi dan membutuhkan perbaikan yang sangat panjang pada saat itu," ungkapnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI, Jakarta, Selasa (14/7/2026).


Smelter yang menggunakan teknologi Double Flash tersebut dirancang dengan kapasitas input konsentrat mencapai 900.000 ton per tahun. Fasilitas tersebut diproyeksikan mampu menghasilkan output berupa 220.000 ton katoda tembaga, 18 ton emas, 55 ton perak, dan 77 ton selenium per tahun.

Setelah melalui proses perbaikan hingga akhir tahun lalu, perusahaan kembali memulai proses commissioning ulang pada Februari 2026. Hasilnya, fasilitas tersebut saat ini dinilai telah memproses seluruh produksi konsentrat dari tambang Batu Hijau sejak Juni 2026.

"Pada sekitar bulan April 2026 kemarin operasi sudah mulai berjalan dan ramping up berjalan dengan baik sehingga pada sekitar bulan Juni 2026 itu kami sudah bisa memproses seluruh produksi yang dihasilkan oleh tambang saat ini," paparnya.

Meski operasional saat ini sudah berjalan penuh, perusahaan merencanakan penghentian operasional sementara (shutdown) pada akhir tahun nanti atau awal tahun depan. Langkah tersebut dilakukan untuk mengganti sejumlah peralatan yang belum sempat diperbarui selama masa pemulihan awal.

"Ada beberapa pekerjaan-pekerjaan perbaikan yang masih tertunda yang diperkirakan nanti kita akan melakukan shutdown lagi di sekitar bulan Desember atau Januari untuk melakukan penggantian beberapa peralatan," tandasnya.


(pgr/pgr) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Pramono Anung: JPO Tendean Ditabrak Sopir Truk Crane Yang Teledor