Rupiah Sentuh Rp18.000/US$, Purbaya: Investor Akan Kembali ke RI

chd, CNBC Indonesia
Selasa, 14/07/2026 15:23 WIB
Foto: Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa dalam Economic Update, CNBC Indonesia, Rabu (24/06/2026). (CNBC Indonesia TV)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akhirnya buka suara perihal nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang telah menyentuh level Rp 18.000/US$. Purbaya menuturkan pelemahan nilai tukar disebabkan karena sebelumnya investor khawatir dan takut mengenai kondisi Indonesia.

Namun, saat ini, Purbaya mengungkapkan Indonesia telah memiliki kabar bagus, yakni penetapan peringkat utang Indonesia. Kemarin, Senin (13/7/2026), lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings kembali mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil.


Keputusan tersebut menegaskan posisi Indonesia tetap berada dalam kategori layak investasi (investment grade) di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi. Dengan adanya penilaian terbaru dari S&P, Purbaya yakin investor akan kembali masuk ke Tanah Air.

"Saya belum ngomong kali bahwa ini berita yang bagus. Jadi begitu ini keluar, viewnya clear bahwa fondasi ekonomi kita bagus. Investor akan balik ke sini secara bertahap," paparnya kepada pewarta di DPR, Selasa (14/7/2026).

Dia yakin jika investor pintar melihat kondisi, mereka akan cepat masuk ke Indonesia. Pasalnya, pernyataan nyinyir yang mengatakan pemerintah Indonesia tidak mampu menjalankan fiskal baik ternyata salah besar.

"Tapi kalau yang pintar sih akan masuk cepat. Ini menunjukkan bahwa tadi yang diragukan banyak orang bahwa kita tidak bisa mengimplementasikan kebijakan fiskal dengan baik. Itu salah," katanya.

Menurutnya, jajaran Kementerian Keuangan selalu serius dan melakukan diskusi mengenai arah kebijakan fiskal RI. Setiap seminggu dan dua minggu sekali, Purbaya mengaku kerap berdiskusi dengan presiden.

Dengan demikian, dia membantah jika ada pihak yang mengatakan pemerintah seolah-olahnya kebijakan liar.

"Dengan Bapak Presiden juga mungkin seminggu dua minggu sekali diskusi ekonomi dan kebijakan fiskalnya. Jadi gak ada itu. Orang kan kesannya seolah-olah kebijakannya liar. Gak ada itu," katanya.

"Kita diskusikan terus secara regular. Bapak Presiden meminta terus kondisi fisikal dan ekonomi secara berkala dan cukup detail," katanya.


(chd/haa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Deretan Mata Uang Terlemah Di Dunia Sepanjang Semester I 2026