MARKET DATA

Harga Ikan Segar di RI Tiba-Tiba Mahal, Ternyata Ini Biang Keroknya

Martyasari Rizky,  CNBC Indonesia
13 July 2026 11:55
Ilustrasi stok ikan jelang Idul Fitri. (Dok. PT Perikanan Indonesia)
Foto: Ilustrasi stok ikan jelang Idul Fitri. (Dok. PT Perikanan Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), khususnya solar, menjadi salah satu pemicu melonjaknya harga ikan segar di Indonesia. Beban operasional yang meningkat membuat banyak nelayan mengurangi aktivitas melaut, sehingga pasokan ikan segar di pasar ikut tertekan.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan ikan segar menjadi penyumbang inflasi tahunan (year-on-year/yoy) terbesar pada Juni 2026. Selain ikan segar, komoditas lain yang memberikan andil terhadap inflasi tahunan adalah beras, minyak goreng, cabai merah, dan daging ayam ras.

"Ikan segar ini ada beberapa faktor yang mempengaruhi, antara lain karena kenaikan harga solar sehingga nelayan juga kesulitan untuk berlayar menangkap ikan. Selain itu ada di beberapa daerah juga mengalami cuaca yang kurang baik untuk melakukan penangkapan ikan," kata Amalia dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Senin (13/7/2026).

Ia menuturkan, ikan segar mengalami inflasi tahunan sebesar 8,87% dan terjadi di 36 provinsi. Gorontalo menjadi provinsi dengan inflasi ikan segar tertinggi, yakni mencapai 26,17%.

"Banyaknya inflasi dari ikan segar di berbagai provinsi itu salah satunya karena bahan bakar minyak yang mengalami kenaikan," ungkap dia.

Amalia menjelaskan, tingginya inflasi ikan segar juga menjadi salah satu penyebab enam provinsi mencatat inflasi tahunan tertinggi. Di Papua Barat, misalnya, ikan segar menjadi penyumbang inflasi terbesar kedua setelah tarif angkutan udara. Sementara di Aceh, inflasi didominasi oleh kenaikan harga ikan segar, nasi dengan lauk, emas perhiasan, beras, dan cabai merah.

Ilustrasi stok ikan jelang Idul Fitri. (Dok. PT Perikanan Indonesia)Ilustrasi stok ikan jelang Idul Fitri. (Dok. PT Perikanan Indonesia) Foto: Ilustrasi stok ikan jelang Idul Fitri. (Dok. PT Perikanan Indonesia)

Selain itu, Papua Barat Daya, Maluku Utara, dan Sumatra Utara juga mencatat tekanan inflasi yang salah satunya dipicu kenaikan harga ikan segar.

BPS mencatat inflasi ikan segar paling tinggi terjadi di Gorontalo, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Sulawesi Utara, dan Papua Tengah. Berbagai jenis ikan tangkap seperti ikan tude atau ikan kembung, ikan layang, hingga cakalang menjadi penyumbang utama kenaikan harga di wilayah tersebut.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Erwin Dwiyana membenarkan kenaikan biaya melaut akibat mahalnya BBM menjadi salah satu faktor utama yang mendorong inflasi ikan segar.

"Memang dengan kenaikan bahan bakar, khususnya untuk melaut, kecenderungan nelayan mengurangi trip bahkan juga tidak melaut, menunggu situasi yang memungkinkan ataupun kondusif," ujar Erwin dalam kesempatan yang sama.

Ia mengatakan, selain kenaikan harga BBM, cuaca buruk juga membuat aktivitas penangkapan ikan terganggu di sejumlah daerah.

"Kemudian di beberapa daerah juga dilaporkan seperti di Dobo di Maluku terjadi kenaikan harga ikan hingga 30%. Juga di beberapa daerah di Gorontalo, melaporkan selain bahan bakar juga musim angin kencang menjadi penyebab nelayan tidak melaut, selain mungkin dari sisi bahan bakar," katanya.

Erwin menjelaskan, secara umum harga ikan segar sepanjang Januari-Juni 2026 bergerak fluktuatif. Inflasi bulanan sempat tinggi pada awal tahun, kemudian terjadi deflasi pada April-Mei sebelum kembali meningkat pada Juni. Sementara secara tahunan, inflasi ikan segar bertahan di kisaran 8-9%, yang menunjukkan harga masih relatif lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.

Menurutnya, tekanan harga pada Juni terutama berasal dari komoditas ikan tangkap. Ikan layang dan ikan cakalang menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar, sedangkan secara tahunan kenaikan harga masih didominasi kelompok ikan pelagis seperti layang, tongkol, kembung, dan cakalang.

Untuk mengendalikan inflasi, KKP terus memperkuat pasokan ikan melalui peningkatan produksi perikanan tangkap berbasis kuota, pengembangan budidaya, penguatan rantai dingin (cold storage), hingga memperbaiki distribusi dan logistik.

Selain itu, pemerintah juga memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah untuk memantau harga dan stok 15 komoditas ikan, sekaligus memperluas akses pembiayaan bagi nelayan agar aktivitas melaut tetap berjalan meski menghadapi kenaikan biaya operasional.

(wur) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Prabowo Terbang ke Gorontalo, Hadiri PENAS Petani & Nelayan Tahun 2026


Most Popular
Features