IMF Bilang AI Jadi Penyelamat Sistem Keuangan Global dari Efek Perang

haa, CNBC Indonesia
Kamis, 09/07/2026 14:20 WIB
Foto: REUTERS/Yuri Gripas

Jakarta, CNBC Indonesia - Kecerdasan buatan (AI) dan pendapatan perusahaan yang kuat telah melindungi sistem keuangan global dari dampak terburuk perang Iran. Hal ini dikemukakan International Monetary Fund (IMF) dalam World Economic Outlook (WEO) edisi Juli 2026.

IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan tumbuh sebesar 3% tahun ini turun dibandingkan realisasi 2025 sebesar 3,5%. Adapun, ekonomi global diramal akan kembali meningkat menjadi 3,4% pada tahun 2027.Proyeksi IMF ini sebagian besar tidak berubah dari perkiraan sebelumnya yang dirilis pada bulan April.


"Perlambatan moderat ini mencerminkan dampak perang di Timur Tengah yang sebagian diimbangi oleh momentum percepatan yang didorong oleh permintaan dalam siklus teknologi global berkat kemajuan dalam kecerdasan buatan (AI) dan adopsinya," kata IMF, dikutip Kamis (9/12/2026).

"Dampaknya sangat bervariasi berdasarkan paparan negara terhadap perang dan posisi dalam rantai nilai teknologi," lanjut IMF.

Dari catatan IMF, lebih dari 80% perusahaan S&P 500 melampaui perkiraan pendapatan mereka pada kuartal pertama tahun ini.

Menurut IMF, konsentrasi pasar ekuitas pada saham-saham kecerdasan buatan (AI), yang telah dibahas dalam laporan stabilitas keuangan global lembaga ini sebelumnya, terus meningkat.

IMF melihat pasar saham dengan eksposur AI yang besar-Jepang, Korea, Provinsi Taiwan, Tiongkok, dan Amerika Serikat-mengungguli pasar saham lainnya sejauh ini pada kuartal kedua tahun 2026.

Meskipun AI membantu melindungi keuangan global, menariknya IMF pernah mengungkapkan risiko dari teknologi ini. Pierre-Olivier Gourinchas, Kepala Ekonom IMF, menuturkan AI dapat memicu inflasi bukan hanya dengan menaikkan biaya chip, tetapi juga dengan membuat konsumen lebih kaya dan lebih bersedia untuk berbelanja.

"Ledakan (booming) investasi AI menghasilkan valuasi yang luar biasa bagi perusahaan-perusahaan di pasar saham AS dan di negara-negara seperti Korea Selatan, menciptakan efek kekayaan yang dapat menambah tekanan harga," kata Gourinchas dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg akhir Juni lalu.

Saham teknologi yang sedang booming meningkatkan rekening pensiun dan portofolio investasi, membuat konsumen merasa lebih kaya dan lebih bersedia untuk berbelanja liburan, rumah, dan pembelian barang-barang mahal lainnya.

"Tekanan permintaan ini, mereka menghasilkan inflasi," kata Gourinchas.


(haa/haa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: AI Ubah Pasar Kerja, 'Fresh Grad' Kena Imbas!