Warning IMF: Efek Perang Berkelanjutan, Siap-Siap Ekonomi Global Suram

Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
Kamis, 09/07/2026 13:00 WIB
Foto: Kantor pusat Dana Moneter Internasional (IMF) (REUTERS/Yuri Gripas)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan global sebesar 3% pada tahun 2026, turun dari rata-rata 3,5% pada 2024-2025 dalam Laporan Prospek Ekonomi Dunia (World Economic Outlook/WEO) Juli 2026.

IMF menilai perlambatan pertumbuhan ekonomi karena efek berkelanjutan dari perang di Timur Tengah.


"Perlambatan moderat ini mencerminkan dampak perang di Timur Tengah," kata IMF, dalam laporan terbarunya, Kamis (9/7/2026).

IMF melihat risiko terhadap prospek lebih seimbang daripada pada bulan April tetapi masih condong ke sisi negatif. Kemungkinan konflik Timur Tengah yang kembali terjadi membayangi dan dapat memperpanjang volatilitas harga komoditas, semakin mengancam rantai pasokan, menaikkan harga, dan membebani kondisi keuangan.

"Fragmentasi perdagangan dapat meningkat, kemungkinan merugikan produksi dan meningkatkan harga," terang IMF.

IMF menilai prioritas kebijakan saat ini adalah memulihkan stabilitas harga, yang didukung oleh komunikasi yang jelas, independensi bank sentral, dan pengawasan keuangan yang kuat, sambil membangun kembali penyangga fiskal dan menggunakan instrumen fiskal secara hemat melalui dukungan sementara dan terarah yang menjaga sinyal harga.

"Reformasi struktural diperlukan untuk mempromosikan keamanan energi, kesiapan AI, penyeimbangan kembali domestik, dan kerja sama internasional harus diperkuat untuk mengurangi tekanan dari ketegangan yang sedang berlangsung."

Di sisi lain, IMF melihat adanya risiko inflasi dunia akan semakin memanas pada 2026. Inflasi yang panas bisa menjadi tantangan bagi pertumbuhan ekonomi negara.

"Mengenai inflasi, gambaran tersebut agak kurang menggembirakan. Inflasi utama global telah direvisi naik menjadi 4,7% tahun ini, sementara perkiraan inflasi inti kami secara umum tidak berubah. Sederhananya, tren disinflasi yang telah berlangsung sejak awal tahun 2024 telah terhenti," kata IMF dikutip Kamis (9/7/2026).

Meskipun demikian, IMF melihat ekonomi dunia telah mengatasi guncangan akibat perang dengan lebih baik daripada yang dikhawatirkan sejauh ini.

Lonjakan harga minyak yang lebih besar dapat dihindari berkat pengurangan persediaan, peningkatan produksi di luar Teluk, dan tindakan untuk membantu mengurangi permintaan minyak. Selain itu, meskipun kondisi keuangan mengencang tajam pada bulan April, kondisi tersebut telah mereda dan tetap mendukung menurut standar historis.

"Sekarang perkiraan kami mengasumsikan bahwa Selat Hormuz mulai dibuka kembali pada pertengahan Juli, dengan kondisi kembali normal seperti sebelum perang pada Maret 2027. Asumsi harga komoditas didasarkan pada harga pasar per 10 Juni, yang menyiratkan harga minyak rata-rata $89 per barel untuk tahun 2026," menurut outlook IMF.

"Pada intinya, kami memperkirakan pemulihan berbentuk V, pertumbuhan yang lebih lemah tahun ini dibandingkan dengan perkiraan pra-perang kami, diikuti oleh pemulihan tahun depan," sambungnya.

Pelemahan pertumbuhan ekonomi tersebut tidak turun lebih dalam karena ditopang perkembangan teknologi dunia. Momentum percepatan yang didorong oleh permintaan dalam siklus teknologi global berkat kemajuan dalam kecerdasan buatan (AI) dan adopsinya.

"Dampaknya sangat bervariasi berdasarkan paparan negara terhadap perang dan posisi dalam rantai nilai teknologi. Eksportir energi di luar zona konflik mendapat manfaat dari persyaratan perdagangan yang menguntungkan, sedangkan ekonomi yang terhubung dengan peningkatan yang dipimpin teknologi mengalami aktivitas yang lebih kuat meskipun mereka adalah importir energi," menurut IMF.


(ras/haa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: DPR & Menkeu Sepakati Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal RAPBN 2027