Warga RI Mohon Simak, Ini Untung Rugi Tenor KPR Rumah Subsidi 40 Tahun

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Kamis, 09/07/2026 10:15 WIB
Foto: Suasana proyek pembangunan perumahan di Depok, Jawa Barat, Rabu (17/2/2021). Harga hunian rumah hunian masih menunjukkan kenaikan pada kuartal IV-2020 namun laju kenaikan melambat. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rencana pemerintah memperpanjang tenor Kredit Pemilikan Rumah Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) hingga 40 tahun dinilai dapat meningkatkan akses masyarakat berpenghasilan rendah untuk memiliki rumah. Kebijakan ini berpotensi memperluas basis pembeli di segmen rumah subsidi yang selama ini masih menghadapi kendala keterjangkauan.

Menurut Head of Research Department Colliers Indonesia Ferry Salanto, tenor yang lebih panjang akan membuat cicilan bulanan menjadi lebih ringan sehingga lebih banyak masyarakat bisa masuk ke pasar perumahan formal. Namun, efektivitas kebijakan tersebut tidak hanya ditentukan oleh sisi pembiayaan.

"Jadi dengan tenor yang lebih panjang, besaran cicilan bulanan tentunya akan jadi lebih ringan sehingga diharapkan semakin banyak masyarakat yang sebelumnya belum mampu untuk mencicil dengan besaran yang ditetapkan sebelumnya untuk bisa masuk ke pasar perumahan," kata Ferry dikutip Kamis (9/7/2026).


Meski demikian, ada dampak lain yang juga harus diperhatikan, yakni total biaya yang harus dibayar berpotensi jadi membengkak.

"Tenor yang panjang ini juga harus diimbangi dengan prinsip kehati-hatian karena memang cicilan bulanan jadi rendah tapi total bunga yang dibayarkan selama masa pinjaman juga akan menjadi lebih besar, sementara masyarakat harus mempertimbangkan kemampuan keuangannya dalam jangka panjang," kata Ferry.

Di sisi lain, ketersediaan rumah yang sesuai dengan batas harga FLPP masih menjadi pekerjaan rumah. Selain pasokan, kesiapan sektor perbankan dan kemampuan calon debitur memenuhi persyaratan kredit juga menjadi faktor yang menentukan keberhasilan program tersebut.

Ferry menilai dampak paling besar akan dirasakan oleh pengembang yang fokus membangun rumah subsidi. Segmen ini berpeluang memperoleh tambahan permintaan yang cukup signifikan apabila akses pembiayaan semakin longgar.

"Bagi sektor properti, kita melihat dampak positifnya pasti akan terasa ke segmen rumah tapak yang bersubsidi dan pengembang yang memang fokus bermain di pasar MBR atau masyarakat berpenghasilan rendah," ujarnya.

Kebijakan tersebut juga diyakini dapat memberikan efek domino ke berbagai industri pendukung. Sektor bahan bangunan, konstruksi hingga pembiayaan berpotensi menikmati peningkatan aktivitas seiring bertambahnya penyerapan rumah subsidi.

Meski demikian, Ferry mengingatkan, manfaat kebijakan ini tidak akan merata ke seluruh sektor properti. Apartemen komersial dan rumah menengah hingga premium diperkirakan tidak akan memperoleh dampak yang terlalu besar karena karakteristik konsumennya berbeda.

"Secara umum untuk pasar properti termasuk apartemen komersial ataupun rumah menengah dan premium mungkin dampaknya relatif terbatas karena segmen ini memang karakteristik pembelinya agak berbeda dan tidak menjadi sasaran utama dari FLPP."


(dce) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Kabar Baik! Tunggakan Kredit di Bawah Rp 1 Juta Bisa Ajukan KPR