Jumlah Perkantoran 'Hantu' di Jakarta Merajalela, Banyak yang Kosong

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Rabu, 08/07/2026 14:55 WIB
Foto: Ilustrasi Perkantoran Jakarta. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar perkantoran di Jakarta masih dibayangi tingginya ruang kosong meski aktivitas penyewaan mulai menunjukkan pemulihan. Hingga kuartal II-2026, sekitar 3 juta meter persegi ruang kantor masih belum terisi, membuat persaingan antargedung semakin ketat dan mendorong pengembang mengubah strategi bisnisnya.

Besarnya ruang kosong tersebut justru menciptakan peluang bagi perusahaan yang ingin berpindah ke gedung dengan kualitas lebih baik. Kondisi pasar yang masih berpihak kepada penyewa membuat banyak pemilik gedung menawarkan berbagai kemudahan agar ruang kantor mereka tetap diminati, tanpa harus memangkas harga sewa secara signifikan.

"Kita bisa lihat ada sekitar 3 juta meter persegi ruang kosong. Salah satu perhatian utama pasar saat ini adalah memang besarnya ruang kosong yang tersedia yaitu sekitar 3 juta. Sekitar 1,76 juta itu ada di CBD, sementara sisanya ada di luar CBD," ujar Head of Research at Colliers Indonesia, Ferry Salanto dalam konferensi pers, Rabu (8/7/2026).


Sebagian besar ruang kosong di kawasan pusat bisnis atau Central Business District (CBD) justru berada di gedung perkantoran kelas premium, yakni sebagian besar ruang kosong berada di Sudirman mencapai (39%) lalu disusul Gatot Subroto sebesar (18%), Rasuna Said (16%), Mega Kuningan (12%), Thamrin (9%) dan Satrio (5%)

Sementara di luar CBD, ruang kosong lebih banyak terkonsentrasi di Jakarta Selatan yang didominasi gedung kelas B. Kondisi ruang kosong membuka momen emas bagi perusahaan untuk melakukan relokasi, terutama ke CBD.

"Yang menarik adalah sebagian besar ruang kosong yang ada di CBD justru ada di gedung-gedung kelas Grade A, terutama yang ada di koridor Sudirman. Kalau untuk di luar CBD konsentrasinya ada di Jakarta Selatan dan kebanyakan memang didominasi oleh gedung kelas B," kata Ferry.

Di tengah tingginya tingkat kekosongan tersebut, pengembang dinilai semakin berhati-hati meluncurkan proyek baru. Fokus mereka kini bukan lagi memperbanyak pasokan, melainkan meningkatkan kualitas aset yang telah dimiliki agar lebih kompetitif di tengah perubahan kebutuhan penyewa.

Strategi tersebut diperkirakan akan membantu pasar menyerap ruang kosong secara bertahap sekaligus menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan dalam beberapa tahun mendatang. Di sisi lain, perusahaan penyewa memanfaatkan kondisi ini untuk mendapatkan lokasi yang lebih strategis dengan biaya yang lebih efisien.

"Namun kalau kita lihat kondisi ini semata-mata bukan hanya sebagai tantangan bagi pemilik gedung, justru ini jadi opportunity bagi perusahaan-perusahaan yang akan melakukan relokasi ke gedung dengan kualitas yang lebih baik. Jadi tanpa harus meningkatkan biaya hunian secara signifikan karena ini adalah tenant's market. Banyak perusahaan yang memanfaatkan situasi ini untuk pindah ke gedung yang lebih modern, lebih efisien, dan juga lebih dekat dengan transportasi publik," ungkap Ferry.

Colliers juga mencatat hampir tidak ada lagi pembangunan gedung perkantoran baru yang bersifat spekulatif. Pengembang lebih memilih melakukan renovasi dan peningkatan kualitas bangunan yang sudah ada dibanding mengambil risiko menambah pasokan baru ketika ruang kosong masih melimpah.

"Developer juga semakin hati-hati. Hampir tidak ada pembangunan gedung perkantoran baru secara spekulatif. Fokus mereka sekarang lebih banyak diarahkan pada renovasi dan peningkatan kualitas aset yang sudah ada. Menurut kami strategi ini akan membantu pasar menyerap ruang kosong secara bertahap sekaligus menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan dalam beberapa tahun ke depan," tutup Ferry.


(hoi/hoi) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Kopdar Prabowo - Modi, Yakin Dongkrak Investasi-Perdagangan RI?