Konsumen Wajib Tahu! Sebelum Beli, Pahami Dulu Teknologi di Balik EV
Jakarta, CNBC Indonesia - Keputusan membeli kendaraan listrik sering dimulai dari pertanyaan yang sama. Keamanan baterai, jarak dan jangkauan, serta durabilitas. Menurut Head of Public and Government Relations PT BYD Motor Indonesia Luther Panjaitan pertanyaan-pertanyaan itu wajar diajukan. Untuk itu, BYD menyiapkan teknologi yang tersembunyi di balik setiap produknya.
Ketika mayoritas pabrikan otomotif global masih bergantung pada rantai pasok baterai dari pihak ketiga, BYD sudah menguasai seluruh prosesnya sendiri dari kimia sel baterai hingga perangkat lunak kendaraan," ungkap dia dikutip Senin (6/7/2026).
Dia menjelaskan pendekatan vertikal ini bukan sekadar efisiensi biaya. Ini adalah keunggulan struktural yang tidak bisa disalin dalam satu atau dua tahun. Kemudian kata dia, ketakutan soal baterai EV yang terbakar bukan paranoia. Namun Blade Battery BYD menjawabnya dengan cara yang paling konkret.
"Sel baterai ditusuk paku baja dalam pengujian resmi tidak ada asap, tidak ada api, suhu permukaan tetap terkendali," ungkap Luther.
Dia menjelaskan baterai BYD memiliki desain sel pipih memanjang yang disusun tanpa modul perantara mendistribusikan panas secara merata dan menekan risiko thermal runaway secara signifikan.
Kekhawatiran juga terjadi pada jarak tempuh, terutama untuk pengguna yang sering menempuh rute antar kota. Dalam hal ini, BYD menawarkan inovasi terintegrasi, yakni e-Platform 3.0 yang menyatukan motor, baterai, dan sistem penggerak dirancang untuk memaksimalkan efisiensi energi di setiap kondisi.
"Perjalanan Jakarta-Bandung bukan lagi soal kalkulasi pengisian daya yang menegangkan," jelas dia.
Tak hanya itu, menurut Luther, produk BYD memerhatikan feel-nya penggunaan kendaraan listrik selama di jalan. Teknologi Cell-to-Body (CTB) BYD mengintegrasikan baterai langsung ke struktur bodi, bukan sekadar menaruhnya di bawah lantai.
"Hasilnya pusat gravitasi lebih rendah, bodi lebih solid saat menikung, stir lebih responsif. Ini konsekuensi dari desain yang memperlakukan baterai sebagai bagian dari arsitektur kendaraan, bukan komponen tambahan," terang dia.
Inovasi lainnya adalah DiLink yang menghubungkan pengemudi dengan kendaraan secara intuitif. DiPilot bekerja aktif sebagai sistem bantuan berkendara lane-keeping, adaptive cruise control, automatic emergency braking tanpa mengambil alih kendali.
"Ia hadir di latar belakang, bekerja saat dibutuhkan, dan tidak terasa mengganggu. Pada akhirnya, teknologi terbaik adalah yang membuat pengguna tidak perlu memikirkan teknologinya. Cukup berkendara, sisanya sudah diurus," pungkas Luther.
(rah/rah) Add
source on Google