Sepakat! PLN Dapat Gas dari Blok Andaman 160 Juta Kaki Kubik

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Selasa, 07/07/2026 12:15 WIB
Foto: Perjanjian jual beli gas (PJBG) dari Blok Mubadala ke PT PLN. (Dok: SKK Migas)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mubadala Energy resmi menandatangani Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) dengan PT PLN (Persero) untuk memasok kebutuhan energi pembangkit listrik dari Blok Andaman. Kerja sama tersebut mencakup penyaluran gas sebesar 160 juta kaki kubik per hari (MMSCFD).

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menjelaskan bahwa kesepakatan tersebut bisa memenuhi persyaratan keputusan investasi final atau Final Investment Decision (FID) proyek tersebut. Ia menekankan bahwa PJBG tersebut menjadi jaminan bagi kepastian pasokan gas domestik yang bersumber dari Lapangan Tangkulo.

"Alhamdulilah, PJBG/GSA Antara K3S Mubadala dan PLN untuk gas Andaman 160 MMSCFD baru saja selesai di teken guna keperluan FID yang Insya Allah dalam waktu dekat ini FID selesai, rencana onstream 2028 lebih cepat dari Masela," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (7/7/2026).


Proyek tersebut ditargetkan mulai berproduksi pada tahun 2028 dengan memanfaatkan cadangan gas dari Lapangan Tangkulo yang diperkirakan mencapai 1 triliun kaki kubik (TCF). Selain porsi untuk PLN, pihaknya saat ini juga tengah memetakan potensi penyerapan untuk sisa produksi sebesar 140 MMSCFD lainnya dalam mengoptimalkan hasil temuan di blok tersebut.

"140 MMSCFD lainnya sedang dicarikan pembeli gasnya dan konsep pengelolaannya. Jadi total 300 MMSCFD dari lapangan Tangkulo dengan cadangan gas 1 TCF," lanjut Djoko.

Pembangunan fasilitas di Blok Andaman dirancang menggunakan skema hibrida yang menggabungkan infrastruktur lepas pantai (offshore) dan daratan (onshore). Proses pemisahan kandungan gas, kondensat, serta unsur pengotor dilakukan menggunakan kapal FPSO di laut sebelum gas bersih dikirim ke darat melalui pipa bawah laut sepanjang 80 kilometer (km).

"Gas dari sumur-sumur offshore di Andaman tidak dapat langsung dibawa ke darat krn mengandung Co2 yang cukup tinggi dan juga H2S, yg sangat korosif, bisa membuat pipa cepat berkarat bocor dan rapuh sehingga co2 dan h2s nya harus dipisahkan terlebih dahulu," paparnya.

Sedangkan, fasilitas produksi di darat atau Onshore Receiving Facility (ORF) rencananya akan dibangun di kawasan KEK Arun, Lhokseumawe, dan telah mendapatkan izin persetujuan dari Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN).

Blok Andaman saat ini dioperasikan oleh Mubadala Energy dengan kepemilikan hak partisipasi sebesar 80% dan Harbour Oil 20% menggunakan skema kontrak gross split.

"Mohon Doa dan dukungan Bapak Ibu, Insya Allah kedepan berjalan lancar aman dan selamat sesuai target waktu onstream 2028," tutupnya.


(pgr/pgr) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Pemerintah Percepat Pembangunan Jaringan Gas Nasional