Pontang-panting Pedagang Mebel di Manggarai Sampai Akhirnya Pasrah
Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah kondisi ketidakpastian ekonomi, sejumah pedagang di Tanah Air mulai pasrah akan keadannya. Bagaimana tidak? dalam beberapa waktu terakhir terjadi penurunan daya beli masyarakat.
Hal itu pun menyebabkan pengurangan karyawan, termasuk di toko mebel bekas di kawasan Jalan Dr. Saharjo, Manggarai, Jakarta Selatan. Dari pantauan CNBC Indonesia langsung di lokasi, Kamis (2/7/2026), pegawai aktif terlihat sedang mengangkut dan merapikan barang-barang furnitur. Tak hanya itu, mereka juga berperan sebagai informan bagi calon pembeli yang berkunjung ke toko.
Bahkan, beberapa dari mereka juga melakukan pengecekan kondisi barang dan melakukan perbaikan pada beberapa barang yang rusak. Alhasil, mayoritas pekerja mebel tersebut menjalani pekerjaannya dengan multitasking. Ternyata, kondisi ini berkaitan erat dengan penurunan penjualan furnitur beberapa waktu terakhir, sehingga sejumlah toko melakukan efisiensi operasional dan tenaga kerja.
Contohnya, Abdul mengaku omzet penjualannya menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini dipicu oleh ketidakpastian ekonomi nasional yang membuat permintaan masyarakat lesu.
"Sekitar 50% ada kalau pedagang- pedagang furnitur. Kalau per hari kadang-kadang laku, kadang-kadang enggak, paling laku taruh lah bangsa 2 atau 1," ujar Abdul selaku pedagang mebel bekas kepada CNBC Indonesia, dikutip Senin (6/7/2026).
Abdul menceritakan, dirinya menjual kursi kantoran dengan kualitas terbaik seharga Rp 750 ribu hingga Rp 1,25 juta. Selain itu, ia juga menjual kursi kantoran biasa yang dibanderol seharga Rp 250 ribu-450 ribu per kursi.
Lebih lanjut, Abdul juga menjual kursi untuk digunakan cafe dan kampus seharga Rp 250 ribu per kursi. Akan tetapi, kursi kampus hanya laku saat momen tahun ajaran baru saja. Selebihnya, jika tidak ada permintaan sama sekali, biasanya Abdul hanya bisa pasrah dan meyakini rezeki bisa datang dari mana saja.
Walaupun Abdul telah menyediakan berbagai jenis dan varian kursi maupun furnitur lainnya, tetap saja tren penjualannya cenderung stagnan. Pada akhirnya, karyawan toko pun terpaksa dikurangi yang tadinya bisa mencapai enam, sekarang hanya sisa dua.
Untuk gajinya sendiri, kata dia, toko tersebut menyediakan dua skema, yakni harian dan mingguan. Jika mengambil skema mingguan, upah karyawan diberikan sekitar Rp 1,05 juta, sedangkan untuk harian ada di kisaran Rp 150 ribu per orang.
"Kalau ginian kan nawarin-nawarin (langsung) enggak bisa, kadang-kadang larinya ke online (karena lebih murah dan bisa dapat baru)," jelasnya.
Meskipun menghadapi persaingan ketat dengan toko online, Abdul tetap optimis minat masyarakat untuk membeli furnitur secara langsung tetap ada. Sebab, calon pembeli bisa melihat langsung dan ada garansi.
Beralih ke penjual furnitur bekas lainnya di lokasi yang sama, Angga, mengaku tren penjualan memang tak menentu. Namun, dia masih berupaya menyediakan barang terbaik di tempatnya. Harga kursi paling murah di tempat Angga dibanderol sekitar Rp 200 ribu, dan bisa seragam mereknya. Jadi, jika ada kantor atau perusahaan yang ingin membeli furnitur, maka bisa disesuaikan.
"Barang luar (impor) itu bergantung dapatnya emang beda sih (kualitas) barangnya," jelas dia.
Seperti toko furnitur di sekitarnya, Angga bekerja hanya ditemani oleh satu orang saja, yaitu atasannya sendiri alias si pemilik toko.
Beranjak ke toko mebel berikutnya, seorang penjual bernama Sandi mengaku aktif memasarkan berbagai produk furnitur bekas. Ia mendapatkan barang tersebut dari kantor-kantor yang sudah tidak beroperasi atau sudah tidak digunakan.
Sandi bilang, barang-barang yang didapatkannya biasanya langsung diperbaiki atau direkondisi agar bisa digunakan kembali secara normal. Bahkan, kain-kain yang ada di furnitur tersebut juga diganti dengan bahan yang baru.
Proses pengecekan barang dilakukan sendiri oleh Sandi. Hal ini membuatnya yakin memberikan garansi lebih lama dibandingkan toko lainnya. Adapun garansi yang Sandi berikan adalah tiga bulan sejak hari pembelian.
Sayangnya, produk furnitur milik Sandi tetap sulit terjual. Hal ini disebabkan oleh turunnya permintaan dari masyarakat.
"Tahun ini turun banget kalau dibandingkan sama tahun lalu. Ini paling murah kursinya Rp 200 ribu yang gak pakai tangan," kata Sandi.
Padahal, Sandi juga menyediakan jasa perbaikan di kisaran Rp 200 ribu dan bisa lebih tergantung kondisi kerusakan dari furnitur. Saat ini, Sandi mengelola toko furniturnya berdua ditemani oleh satu orang rekannya.
(dce) Add
source on Google