Eropa Bak Jatuh Tertimpa Tangga, 4 Negara Siaga Malapetaka
Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang panas kembali menghantam Eropa dan memicu kebakaran hutan besar di sejumlah negara. Portugal, Spanyol, Prancis, dan Yunani kini bersiaga menghadapi bencana setelah api melalap lebih dari 42.000 hektare lahan, sementara suhu di beberapa wilayah diperkirakan kembali menembus 40 derajat Celcius.
Ratusan petugas pemadam kebakaran dikerahkan untuk menjinakkan kobaran api yang memaksa warga meninggalkan rumah mereka di tengah malam. Salah satu warga yang dievakuasi di wilayah dekat Perpignan, Prancis selatan, Charlotte Pignol, mengaku situasi berlangsung sangat cepat.
"Kami mulai melihat asap sekitar pukul 22.30, lalu asap itu terus mendekat. Sekitar pukul 01.00 seseorang dari balai kota mengetuk pintu dan meminta kami mengungsi," ujarnya, seperti dikutip AFP, Senin (6/7/2026).
"Ada banyak mobil pemadam kebakaran di mana-mana dan bau asapnya sangat menyengat," tambahnya.
Kondisi tersebut muncul hanya beberapa pekan setelah Eropa dilanda salah satu gelombang panas terparah pada Juni lalu. Kelompok ilmuwan World Weather Attribution menilai cuaca ekstrem yang menyebabkan ribuan kematian berlebih itu hampir mustahil terjadi tanpa pengaruh perubahan iklim.
Pemerintah Prancis bahkan memperingatkan musim kebakaran hutan tahun ini berpotensi berlangsung lebih lama karena dimulai lebih awal dari biasanya.
"Perubahan iklim telah tiba, kita sedang mengalami konsekuensinya, dan ini baru awal Juli," kata Kolonel Eric Belgioino dari dinas pemadam kebakaran Prancis.
Ia juga meminta masyarakat lebih berhati-hati agar tidak memicu kebakaran baru. "Musim ini akan panjang bagi para petugas pemadam kebakaran. Kalian harus membantu kami," ujarnya.
Di Yunani, kebakaran hutan merembet hingga membakar dua pabrik di Thessaloniki. Asap hitam pekat dari pabrik daur ulang dan kompleks pengolahan minyak menyelimuti kota terbesar kedua di negara itu. Otoritas setempat memperingatkan warga agar tetap berada di dalam rumah dan menutup jendela karena adanya risiko paparan asap beracun.
Sementara itu di Spanyol, kebakaran di kawasan wisata Costa Brava telah menghanguskan lebih dari 2.200 hektare lahan hanya dalam dua hari. Petugas pemadam kebakaran memperkirakan proses pemadaman akan semakin sulit karena suhu udara yang terus meningkat dan masih banyaknya titik api di area terdampak.
Di Prancis, lebih dari 700 petugas pemadam kebakaran diterjunkan untuk mengendalikan api yang telah membakar lebih dari 1.500 hektare kawasan pegunungan Trevillach. Kebakaran itu bahkan mengancam jalur etape ketiga ajang balap sepeda Tour de France. Pemerintah setempat masih mengevaluasi apakah rute balapan akan tetap dilanjutkan sesuai jadwal.
Jalan-jalan menuju kawasan terdampak telah ditutup, sementara pemerintah membuka tempat penampungan darurat bagi warga yang dievakuasi. Di wilayah tenggara Prancis, sekitar 300 petugas lainnya juga masih berjibaku memadamkan kebakaran di kawasan pegunungan Drome.
Di Portugal, layanan darurat menyatakan sekitar 80% kebakaran yang melanda kawasan utara telah berhasil dikendalikan. Meski begitu, api telah menghanguskan sekitar 13.000 hektare hutan dan semak belukar. Kebakaran besar juga dilaporkan terjadi di Pulau Hvar, Kroasia, serta Tale, Albania, yang merusak hutan, kebun anggur, dan lahan semak.
Ancaman belum berakhir. Otoritas cuaca di Portugal, Spanyol, dan Prancis selatan kembali meningkatkan status peringatan gelombang panas dalam beberapa hari ke depan. Mulai Senin, gelombang panas diperkirakan bergerak ke wilayah Eropa utara dan berpotensi bertahan hingga akhir pekan.
Sebelumnya, Prancis mencatat lebih dari 2.000 kematian tambahan hanya dalam sepekan akibat gelombang panas Juni, sementara Spanyol dan Belgia masing-masing melaporkan lebih dari 1.000 kematian, menandakan dampak cuaca ekstrem di Eropa kian mengkhawatirkan.
(tfa/tfa) Add
source on Google