Ukraina Menggila Hajar "Urat Nadi" Rusia, Negara Dilanda Krisis
Jakarta, CNBC Indonesia - Ukraina kembali meningkatkan tekanan terhadap Rusia dengan melancarkan serangan drone besar-besaran ke wilayah St. Petersburg dan sekitarnya pada Sabtu (4/7/2027) malam. Serangan itu menyasar terminal minyak serta infrastruktur pelabuhan di wilayah yang menjadi salah satu pusat logistik dan energi Rusia, sekaligus menandai makin agresifnya strategi Kyiv menghantam sumber pendapatan perang Moskow jauh di belakang garis depan.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyebut operasi tersebut sebagai bagian dari strategi "sanksi jarak jauh" terhadap Rusia, yakni upaya menyerang fasilitas-fasilitas ekonomi dan militer yang menopang invasi Moskow ke Ukraina.
Gubernur St. Petersburg Alexander Beglov mengatakan kota terbesar kedua di Rusia itu menjadi sasaran serangan drone dalam skala besar.
"Kota ini menjadi sasaran serangan drone berskala besar," kata Beglov, dilansir The Guardian.
Ia mengonfirmasi bahwa terminal minyak di kota tersebut terkena serangan. Meski demikian, Beglov menyatakan tidak ada korban jiwa dan seluruh dampak serangan telah berhasil ditangani oleh otoritas setempat.
Di saat yang sama, Gubernur Wilayah Leningrad Alexander Drozdenko mengatakan salah satu drone menghantam kawasan Pelabuhan Vysotsk, sekitar 170 kilometer di barat laut St. Petersburg di pesisir Laut Baltik. Pelabuhan Vysotsk merupakan salah satu fasilitas penting Rusia yang menangani ekspor minyak, biji-bijian, batu bara, hingga gas alam cair (LNG).
Drozdenko mengungkapkan sistem pertahanan udara Rusia berhasil menembak jatuh 72 drone yang melintas di wilayah Leningrad. "Sebanyak 72 drone ditembak jatuh di atas wilayah tersebut," ujarnya.
Ia menambahkan sejumlah permukiman mengalami kerusakan ringan akibat serangan tersebut, namun tidak memberikan rincian mengenai tingkat kerusakan di Pelabuhan Vysotsk.
Melalui akun Telegram resminya, Zelensky menegaskan bahwa operasi tersebut memang dirancang untuk melemahkan kemampuan ekonomi Rusia membiayai perang.
"Pasukan pertahanan Ukraina menyerang infrastruktur minyak pelabuhan yang menghasilkan pendapatan bagi perang Rusia, dan juga menghantam Kronstadt, target militer penting yang berjarak lebih dari 850 kilometer dari perbatasan negara Ukraina," kata Zelensky.
Pernyataan itu menunjukkan Ukraina kini semakin percaya diri menyerang target-target strategis jauh di dalam wilayah Rusia.
Namun hingga kini Rusia belum mengonfirmasi klaim Ukraina mengenai serangan terhadap Kronstadt, pangkalan utama Angkatan Laut Rusia di dekat St. Petersburg yang sebelumnya juga pernah menjadi sasaran serangan Ukraina bulan lalu.
Presiden Rusia Vladimir Putin berusaha meredam dampak psikologis serangan tersebut dengan menyatakan bahwa serangan terhadap fasilitas energi Rusia "tidak kritis".
Meski demikian, serangan-serangan terhadap sektor energi Rusia terus meningkat sepanjang tahun ini. Ukraina secara konsisten menargetkan kilang minyak dan fasilitas penyimpanan energi, yang menurut berbagai laporan telah menyebabkan kerusakan besar serta memicu kelangkaan bensin di seluruh 11 zona waktu Rusia.
Serangan drone Ukraina juga terjadi di sejumlah wilayah lain Rusia.
Gubernur Wilayah Bryansk dan gubernur yang ditunjuk Rusia di Crimea sama-sama melaporkan satu orang tewas akibat serangan drone di masing-masing wilayah tersebut. Selain itu, beberapa warga lainnya mengalami luka-luka.
Di wilayah Pskov, yang berada di sebelah selatan St. Petersburg, gubernur setempat mengatakan lebih dari 30 drone berhasil ditembak jatuh dalam semalam.
Meski sebagian besar berhasil dicegat, serangan tetap menyebabkan kerusakan ringan dan korban luka, termasuk di sebuah pabrik di Kota Velikiye Luki.
Adapun di tengah meningkatnya perang drone, perang informasi antara kedua negara juga terus berlangsung.
Zelensky membantah klaim militer Rusia yang menyebut pasukan Moskow telah berhasil merebut Kota Kostiantynivka di Ukraina timur.
Sebelumnya, militer Rusia melaporkan kepada Presiden Putin bahwa kota tersebut telah berada di bawah kendali mereka. Kostiantynivka merupakan target penting yang sejak lama ingin direbut Kremlin dalam upayanya menguasai seluruh Wilayah Donetsk.
Namun Zelensky menegaskan klaim tersebut tidak benar. "Tentu saja itu tidak benar. Itu hanyalah kebohongan Rusia lainnya, sebuah upaya untuk menciptakan semacam berita," tulis Zelensky di platform X.
Ia bahkan menyindir Putin terkait klaim tersebut.
"Jika Kostiantynivka benar-benar berada di bawah kendali Rusia, mungkin Putin tidak akan memiliki masalah untuk bertemu dengan saya di sana guna mencari jalan diplomatik untuk akhirnya mengakhiri perang ini," katanya.
Pernyataan Zelensky diperkuat oleh Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina yang memastikan Kostiantynivka masih berada di bawah kendali pasukan Ukraina.
"Dinas dan subunit militer Korps Angkatan Darat ke-19 dari Kelompok Timur terus melaksanakan operasi pertahanan di garis-garis yang telah ditetapkan di dalam kota maupun di jalur-jalur pendekatannya," demikian pernyataan Staf Umum Ukraina.
Kostiantynivka merupakan kota paling selatan dari empat kota utama yang membentuk garis pertahanan penting Ukraina untuk mempertahankan sisa wilayah industri Donetsk yang masih berada di bawah kendali Kyiv.
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia juga mengeklaim pasukannya berhasil menguasai lima desa lain di Ukraina timur, yakni Shyikivka, Novyi Myr, Cherneshchyna, dan Druzhelyubivka di Wilayah Kharkiv, serta Vasylivka di Wilayah Donetsk. Hingga kini, klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
(luc/luc) Add
source on Google