Bos Pengusaha Wanti-Wanti Potensi Masalah di Cicilan Mobil, Ada Apa?

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Jumat, 03/07/2026 16:25 WIB
Foto: Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026 tidak hanya menjadi ajang pameran produk, tetapi juga panggung utama peluncuran kendaraan baru. Sejumlah merek telah menyiapkan model terbaru yang akan diperkenalkan selama pameran berlangsung di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada 5–15 Februari 2026. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pelemahan nilai tukar rupiah menjadi perhatian serius industri pembiayaan. Kondisi tersebut dinilai berpotensi mendorong kenaikan harga kendaraan bermotor karena sebagian komponen maupun bahan bakunya masih bergantung pada impor.

Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno mengatakan produsen kendaraan kemungkinan masih menahan kenaikan harga melalui berbagai strategi bisnis. Namun ruang tersebut tidak akan berlangsung selamanya apabila pelemahan rupiah terus berlanjut.

"Kalau kita bicara mengenai pelemahan rupiah, tentu semua barang impor akan punya pengaruh. Kalau kita bicara kendaraan, harusnya juga naik," katanya kepada CNBC Indonesia, Jumat (3/7/2026).


Ia menjelaskan apabila harga kendaraan akhirnya mengalami penyesuaian, maka nilai pembiayaan dan besaran cicilan yang dibayar konsumen juga akan ikut berubah. Karena itu perusahaan pembiayaan akan semakin memperhatikan kemampuan bayar calon debitur.

"Kalau nanti ada kenaikan harga kendaraan, tentunya akan ada kenaikan cicilan. Itu harus dihitung kembali kemampuan membayar debiturnya."

Di tengah kondisi tersebut, perusahaan pembiayaan memilih tetap berhati-hati dalam menyalurkan kredit baru. Langkah ini dinilai penting agar kualitas pembiayaan tetap terjaga apabila tekanan ekonomi masih berlanjut.

Suwandi mengatakan penyesuaian bunga maupun kenaikan harga kendaraan tidak otomatis mengurangi minat masyarakat. Namun perusahaan tetap harus memastikan setiap kredit diberikan kepada konsumen yang benar-benar memiliki kemampuan membayar.

"Yang paling penting bagi kami adalah kemampuan bayar debitur tetap baik sehingga pembiayaan bisa berjalan sehat," katanya.

Meski menghadapi tantangan dari sisi kurs, industri pembiayaan tetap berharap kondisi ekonomi nasional terus membaik sehingga daya beli masyarakat kembali meningkat.

"Harapan kita nilai tukar rupiah bisa kembali menguat sehingga kepercayaan investor dan pertumbuhan ekonomi juga semakin baik," ujar Suwandi.

Sementara itu, Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (3/7/2026).

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda berakhir di zona hijau dengan menguat 0,24% ke level Rp17.945/US$. Penguatan ini sekaligus mematahkan tren pelemahan rupiah dalam tiga perdagangan beruntun sebelumnya.

Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak di rentang Rp17.935-Rp17.965/US$. Penguatan rupiah sudah terlihat sejak awal perdagangan pagi tadi, seiring melemahnya dolar AS di pasar global.


(dce/dce) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Rupiah Melemah Bikin Impor Bahan Baku Truk & Bus Listrik Naik