8 Photos
Terungkap! Potret Uang Rp 251 M di Balik Dinding Rumah Wakil Menteri
Penggerebekan rumah Wamen Perminyakan Irak mengungkap uang tunai Rp251 miliar tersembunyi di balik dinding. Temuan itu terkait penyelidikan dugaan korupsi.
Penggerebekan di rumah Wakil Menteri Perminyakan untuk Urusan Distribusi Irak, Ali Maarij Al Bahadly, mengungkap temuan uang tunai senilai sekitar US$ 14 juta atau setara Rp251,3 miliar yang disembunyikan di balik dinding rumahnya. Uang tersebut terdiri atas US$ 11 juta dan empat miliar dinar Irak atau sekitar US$ 3 juta. Penggerebekan dilakukan akhir pekan lalu sebagai bagian dari penyelidikan dugaan korupsi yang tengah berlangsung. (Facebook/مجلس القضاء الاعلى)
Temuan tersebut merupakan bagian dari operasi pemberantasan korupsi yang digencarkan pemerintahan Perdana Menteri Irak, Ali al-Zaidi, sejak dilantik pada 14 Mei 2026. Sebelumnya, pemerintah mengklaim telah menangkap 47 tersangka korupsi dalam satu hari, termasuk pejabat kabinet dan anggota parlemen. Ketua Pengadilan Kriminal Pusat untuk Korupsi Irak menyatakan uang tunai ditemukan dalam tahap awal penyelidikan dan proses investigasi masih terus berlanjut. (Facebook/مجلس القضاء الاعلى)
Foto yang dirilis Dewan Kehakiman Irak memperlihatkan penyelidik membobol dinding di area kolam renang rumah Al Bahadly menggunakan palu bor. Di balik dinding tersebut ditemukan sejumlah koper berisi tumpukan uang dolar AS dan dinar Irak yang diikat rapi. Selain uang tunai, penyidik juga menemukan beberapa kotak barang, termasuk sebuah jam tangan Rolex berwarna emas. (Facebook/مجلس القضاء الاعلى)
Sebagai Wakil Menteri Perminyakan untuk Urusan Distribusi, Al Bahadly bertanggung jawab mengawasi alokasi dan penjualan produk bahan bakar olahan di Irak. Jabatan tersebut dinilai sangat strategis karena berkaitan langsung dengan pedagang bahan bakar swasta, perusahaan distribusi, dan penetapan kuota di berbagai provinsi. Kini, Al Bahadly telah ditahan dan menjalani proses hukum di Pengadilan Pidana Anti-Korupsi Pusat di Baghdad. (Facebook/مجلس القضاء الاعلى)
Pemerintah Irak menyebut telah berhasil menyita aset bernilai miliaran dinar, menyita sejumlah properti, serta menjatuhkan hukuman penjara kepada beberapa pejabat dalam kampanye antikorupsi. Namun, sejumlah pengamat meragukan keberlanjutan langkah tersebut. Peneliti Arab Centre for Research and Policy Studies, Harith Hasan, menilai penegakan hukum di Irak kerap bersifat selektif dan berpotensi melambat ketika mulai menimbulkan biaya politik, meski ia memperkirakan masih ada kemungkinan penangkapan baru dalam waktu dekat. (Facebook/مجلس القضاء الاعلى)
source on Google