Mobil Listrik Makin Laris, Hilirisasi Baterai Jadi Masa Depan Antam
Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia saat ini tengah gencar membangun ekosistem pabrik baterai kendaraan listrik (EV) terintegrasi, sebagai upaya hilirisasi dan meningkatkan nilai tambah. Upaya ini juga didukung dengan besarnya cadangan bahan baku utama komponen baterai, yakni nikel.
Salah satu proyek ekosistem baterai terintegrasi hulu-hilir pun dikembangkan oleh PT Aneka Tambang (ANTAM), Indonesia Battery Corporation (IBC), dan perusahaan asal China, yakni Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co. Ltd. (CBL) yang merupakan perusahaan patungan dari CATL, Brunp, dan Lygend. Proyek tersebut sebelumnya masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan nilai investasi mencapai US$5,9 miliar atau sekitar Rp105,25 triliun (asumsi kurs Rp17.839 per dolar AS).
Proyek ini terdiri dari total enam usaha patungan (Joint Venture/JV) mulai dari proyek hulu hingga hilir. Detailnya, JV satu hingga tiga merupakan ekosistem baterai di sisi hulu, sedangkan JV empat hingga enam merupakan ekosistem baterai di sisi hilir.
Sebelumnya Presiden Prabowo melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking proyek tersebut di Kawasan Artha Industrial Hills (AIH), Karawang, Jawa Barat. Prabowo menyebut proyek baterai terintegrasi tersebut sebagai salah satu langkah penting dalam mendorong hilirisasi sumber daya alam Indonesia, khususnya komoditas nikel yang menjadi bahan baku utama baterai kendaraan listrik.
Pemerintah juga memperkirakan proyek ini akan menyerap sekitar 8.000 tenaga kerja langsung serta mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah sekitar melalui pembangunan berbagai infrastruktur pendukung, termasuk kawasan industri dan dermaga multifungsi.
Sementara itu, Direktur Utama ANTAM Untung Budiharto menjelaskan perusahaan berkomitmen untuk menerima penugasan khusus dari pemerintah dalam rangka percepatan program hilirisasi nikel dan pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik nasional.
"Melalui berbagai proyek strategis yang terintegrasi, ANTAM tidak hanya meningkatkan nilai tambah, tetapi juga mendukung penguatan kemandirian industri nasional serta posisi Indonesia dalam rantai pasok industri global," ungkap dia dikutip Rabu (1/7/2026).
Penugasan tersebut mencakup pengembangan ekosistem baterai terintegrasi berbasis nikel dari hulu hingga hilir, yang meliputi kegiatan pertambangan, pembangunan pabrik RKEF/RKSBF, fasilitas HPAL, refinery, prekursor, katoda, battery cell , hingga fasilitas battery recycling.
Pengembangan ekosistem ini diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral nasional, memperluas sumber pendapatan Perseroan, memperkuat ketahanan bisnis jangka panjang, serta mendukung pertumbuhan berkelanjutan.
Diketahui sepanjang 2025, produksi bijih nikel ANTAM mencapai sebesar 16,11 juta wet metric ton (wmt) atau meningkat 62% dibandingkan capaian produksi pada FY24 sebesar 9,94 juta wmt. Dari sisi pemasaran, penjualan bijih nikel tercatat sebesar 14,58 juta wmt, tumbuh 75% dibandingkan 2024 sebesar 8,35 juta wmt.
Didorong dengan meningkatnya permintaan domestik, 2025 menandai kinerja produksi dan penjualan bijih nikel ANTAM sebagai yang tertinggi dalam lebih dari satu dekade terakhir sejak pemberlakuan larangan ekspor mineral.
Sementara untuk produk feronikel di tengah dinamika regulasi dalam negeri sepanjang 2025, ANTAM menjaga stabilitas operasional dengan membukukan produksi sebesar 16.064 ton nikel dalam feronikel (TNi), dengan volume penjualan sebesar 10.528 TNi.
(rah/rah) Add
source on Google