Kementan Siapkan Jurus Ini agar Harga Telur Ayam Peternak Tak Anjlok
Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan sejumlah langkah untuk menahan kejatuhan harga telur ayam di tingkat peternak yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Upaya tersebut mulai dari mendorong peternak menjual langsung ke konsumen, memperkuat distribusi antardaerah, hingga mengusulkan peningkatan konsumsi telur dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan Agung Suganda mengatakan, pihaknya terus mendorong peternak, khususnya peternak ayam petelur, agar memperpendek rantai distribusi dengan menjual langsung kepada konsumen akhir tanpa melalui perantara.
"Kami terus mendorong agar para peternak rakyat, terutama telur, menjual telurnya langsung ke end user. Ini dilakukan teman-teman di Jawa Timur, Jawa Tengah, karena saat ini BUMN pangan kita belum bisa melakukan atau membantu distribusi dari pulau Jawa ke luar Jawa," kata Agung dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi IV DPR RI di kompleks parlemen, Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Menurut Agung, penurunan harga telur saat ini terutama terjadi di Pulau Jawa. Sementara itu, harga di sejumlah daerah lain masih relatif tinggi.
"Sebetulnya harga jatuh ini kan hanya di pulau Jawa. Kemarin kami lihat di Gorontalo harga telur masih Rp30.000 per kg. Begitupun di Maluku dan Papua," ujarnya.
Karena itu, Kementan meminta dukungan Komisi IV DPR RI agar BUMN pangan dapat membantu penyerapan sekaligus distribusi telur dari Pulau Jawa ke wilayah lain yang masih mengalami harga tinggi.
"Nah mohon juga Komisi IV DPR RI, agar peran BUMN pangan kita bisa membantu melakukan penyerapan dan distribusi telur dari pulau jawa ke luar pulau," katanya.
Sementara untuk komoditas ayam broiler, Agung optimistis harga di tingkat peternak mulai membaik pada pertengahan Juli.
"Khusus untuk ayam broiler, InsyaAllah tanggal 15 Juli harga minimal Rp19.500 per kg all size. Ini harapannya. Kalau yang di bawah 2 kg itu bisa sesuai dengan harga acuan," tuturnya.
Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Kementan Suwandi menjelaskan melemahnya konsumsi telur dipicu oleh sejumlah faktor musiman yang terjadi secara beruntun, mulai dari Idul Adha, Tahun Baru Islam 1 Suro hingga libur panjang sekolah.
"Waktu Idul Adha itu kan banyak qurban sapi dan kambing, itu (terjadi) penurunan konsumsi telur. Habis Idul Adha itu 1 Suro, orang hajatan jarang kalau di Jawa, sehingga telur juga berkurang konsumsinya. Habis itu liburan anak sekolah sebulan," kata Suwandi.
Untuk mendongkrak kembali permintaan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman telah mengusulkan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) agar frekuensi konsumsi telur dalam program Makan Bergizi Gratis ditingkatkan dari satu kali menjadi tiga kali dalam sepekan.
"Bapak Menteri Pertanian (Amran Sulaiman) sudah bersurat ke Kepala BGN untuk menambah hari, dari sehari menjadi 3 hari makan telur dalam seminggu, dengan BGN itu. Tapi pas sekarang libur sebulan, jadi setelah masuk (sekolah) akan naik lagi," ujar Suwandi.
Selain itu, Amran juga telah berkirim surat kepada Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita agar investasi perusahaan besar di sektor peternakan ayam diperketat demi melindungi peternak rakyat.
"Tapi di luar itu juga Bapak Menteri sudah bersurat ke Menteri Perindustrian (Agus Gumiwang Kartasasmita) supaya industri besar jangan masuk investor ke peternakan ayam. banyak upayalah," pungkasnya.
Catatan: Berita ini telah mengalami perubahan judul dari sebelumnya Amran Potong Tukin Pejabat Kementan 30% untuk Menolong Peternak Ayam. Redaksi meminta maaf atas terjadi kesalahan kutipan.
(wur) Add
source on Google