MARKET DATA
ENERGY FORUM

RI Berpotensi Panen Produksi "BBM" dari Tanaman, Tak Cuma Sawit!

Verda Nano Setiawan,  CNBC Indonesia
30 June 2026 10:35
Direktur Jenderal EBTKE, Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi saat menyampaikan pemaparan dalam Energy Forum di Singosari Ballroom-Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (25/6/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana memperluas bahan baku bioenergi. Jika selama ini biodiesel didominasi minyak sawit, ke depan pemerintah akan mengembangkan berbagai tanaman lain sebagai sumber biofuel.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menyampaikan pemerintah telah menetapkan tahapan implementasi mandatori biodiesel melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 4 2025.

"Lalu mandatory biodiesel sudah pasti, bahkan di Permen ya, Peraturan Menteri ESDM Nomor 4 itu pentahapan-pentahapan ini sudah kita tetapkan," kata Eniya dalam acara Energy Forum CNBC Indonesia, Jakarta dikutip Senin (29/6/2026).

Menurut dia, pengembangan bioenergi ke depan tidak hanya bertumpu pada crude palm oil (CPO). Pemerintah mulai menjajaki pemanfaatan tanaman seperti jagung, singkong, dan tebu sebagai bahan baku bioetanol untuk menggantikan sebagian konsumsi bensin.

"Lalu ada tanaman yang lain lagi seperti kelapa begitu untuk bio-avtur. Jadi ke depan akan banyak sekali potensi kita menaikkan lifting minyak dari tanaman," ujarnya.

Di tempat yang sama, PT Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) menyiapkan strategi multi-feedstock, multi-generation, dan multi-region untuk mempercepat pengembangan bioetanol nasional. Langkah ini dilakukan untuk mendukung program pencampuran bioetanol pada BBM jenis bensin.

Direktur Utama PT Pertamina NRE John Anis mengatakan pengembangan bioetanol tidak dapat hanya mengandalkan satu jenis bahan baku. Menurutnya, ketersediaan molases atau tetes tebu sebagai bahan baku utama saat ini masih jauh dari kebutuhan apabila Indonesia menerapkan campuran bioetanol hingga E10 maupun E20.

"Keberhasilan dari B50, tentu saja kita juga ingin mengcopy keberhasilan itu untuk di etanol. Nah, cuma memang perjalanannya cukup panjang tapi kami tidak menyerah di situ. Strategi kami di sini adalah ada tiga strategi: satu adalah multi-feedstock, yang kedua adalah multi-generation, yang ketiga adalah multi-region," kata John dalam acara Energy Forum CNBC Indonesia, Jakarta dikutip Senin (29/6/2026).

Ia menjelaskan, molases menjadi bahan baku yang paling matang karena merupakan produk samping industri gula sehingga tidak bersaing langsung dengan kebutuhan pangan. Namun, kapasitas produksinya masih terbatas.

Di sisi lain, kebutuhan bioetanol nasional diperkirakan jauh lebih besar. Setidaknya untuk mendukung implementasi campuran E10, kebutuhan bioetanol diperkirakan mencapai 10 juta hingga 20 juta kiloliter per tahun, sehingga pasokan dari molases saja tidak akan mencukupi.

Oleh sebab itu, Pertamina NRE mulai memperluas sumber bahan baku bioetanol. Salah satunya melalui kerja sama dengan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) dalam pembangunan fasilitas bioetanol berbasis molases di kawasan Pabrik Gula Glenmore Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur dengan kapasitas produksi sekitar 33 ribu kiloliter per tahun.

(pgr/pgr) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Mentan Amran Bakal Kembangkan Sawit di Lahan Gundul, Ini Targetnya


Most Popular
Features