CEO Honda Tiba-Tiba Minta Maaf, Ada Apa?
Jakarta, CNBC Indonesia - CEO Honda Motor, Toshihiro Mibe, tiba-tiba meminta maaf. Ini terjadi saat ia kembali mendapatkan dukungan untuk kembali ke dewan direksi perusahaan raksasa otomotif Jepang tersebut, di rapat tahunan Jumat (26/6/2026).
Honda sendiri kini berupaya pulih dari kesalahan strategis setelah mencatatkan kerugian tahunan pertamanya dalam tujuh dekade terakhir bulan lalu. Kerugian disebabkan oleh biaya restrukturisasi lebih dari US$9 miliar untuk bisnis kendaraan listriknya dan persaingan dengan otomotif China.
"Saya ingin menyampaikan permintaan maaf saya yang terdalam kepada para pemegang saham atas kekhawatiran dan ketidaknyamanan yang signifikan yang disebabkan oleh kerugian bersih yang tercatat dalam hasil keuangan tahun fiskal sebelumnya," kata Mibe kepada para pemegang saham di awal rapat.
Selain mendukung Mibe, para pemegang saham Honda menyetujui 10 calon anggota dewan direksi lainnya, termasuk sembilan yang akan diangkat kembali dan satu direktur baru. Pemungutan suara tersebut sesuai dengan saran dari penasihat proksi Glass Lewis dan ISS, yang telah merekomendasikan untuk mendukung semua direktur.
Di tengah pengurangan subsidi kendaraan listrik (EV), Honda memutuskan untuk melakukan penurunan nilai aset terkait EV karena pangsa pasar mobil bertenaga baterai di AS jauh di bawah perkiraan perusahaan. Hal ini menyebabkan penjualan model yang direncanakan akan membutuhkan insentif besar.
"Jika perusahaan tetap melanjutkan penjualan EV yang direncanakan, itu berarti bisnis otomotif itu sendiri akan tetap merugi setidaknya selama lima tahun, mungkin hingga tujuh tahun," kata Mibe, menambahkan bahwa hal itu akan menciptakan situasi yang sangat kritis di perusahaan.
Sementara itu, dalam beberapa bulan terakhir, Mibe telah menuai kecaman dari para eksekutif Honda yang telah pensiun atas kesalahan tersebut, dengan mantan kepala eksekutif Nobuhiko Kawamoto mengunjungi kantor pusat Tokyo pada bulan April untuk mendesaknya mengundurkan diri. Hal ini dikatakan sumber yang mengetahui masalah tersebut kepada Reuters.
Para mantan eksekutif tersebut mengkritik Mibe karena mengabaikan China, pasar otomotif terbesar di dunia, dan karena taruhan perusahaan yang gagal pada EV yang menyebabkan kerugian Honda. Mereka juga menyoroti ketergantungan yang semakin besar pada divisi sepeda motornya yang menguntungkan.
Menjelang akhir rapat, seorang pemegang saham mengusulkan pengajuan mosi yang menyerukan pemecatan Mibe, tetapi kepala eksekutif menolak untuk mengajukannya ke pemungutan suara. Ia mengatakan bahwa masalah tersebut tidak ada dalam agenda dan oleh karena itu usulan tersebut tidak dapat dipertimbangkan.
Mibe mengatakan pembicaraan dengan Nissan Motor dan Mitsubishi Motors tentang kerja sama dalam teknologi kendaraan generasi berikutnya, yang berlangsung sejak pertengahan 2024, berada pada tahap lanjut.
(sef/sef) Add
source on Google