Update Gempa Venezuela: Korban Tewas-AS Akhirnya Ulurkan Tangan
Jakarta, CNBC Indonesia - Dua gempa bumi kembar berkekuatan M 7,2 dan M 7,5 mengguncang Venezuela pada rabu (24/06/2026) malam waktu setempat, mengakibatkan sedikitnya 188 orang tewas dan lebih dari 1,500 korban luka-luka. Dampak guncangan tersebut menghancurkan ratusan bangunan, merusak tangki air atap, serta memicu kepulan debu pekat di jalanan kota.
Menghadapi situasi darurat ini, Penjabat Presiden Delcy Rodriguez segera mengambil langkah cepat dengan meninjau langsung area terdampak. Ia juga secara resmi mendeklarasikan status darurat nasional guna mempercepat mobilisasi bantuan.
Pemerintahannya kini memfokuskan seluruh tim penyelamat untuk berpacu dengan waktu dalam menemukan korban yang masih terjebak di bawah reruntuhan. Selain itu, sebagai langkah keselamatan komprehensif, otoritas federal memutuskan untuk menutup total operasional Bandara Internasional Simon Bolivar di ibu kota Caracas karena mengalami kerusakan struktural akibat gempa.
Bencana kembar ini membangkitkan trauma mendalam bagi warga ibu kota yang teringat akan tragedi gempa bumi besar tahun 1967 silam. Kesaksian mencekam dilaporkan oleh warga sipil yang sempat mengira getaran awal tersebut merupakan suara renovasi bangunan dari rumah tetangganya sebelum situasi berubah mencekam.
"Suaranya seperti suara lokomotif kereta api, belum lagi debu yang beterbangan di jalanan," tutur seorang warga berusia 60 tahun, Alejandro San Cristobal, kepada Al Jazeera.
"Awalnya saya mengira itu tetangga yang menggunakan bor di luar jadwal renovasi, tetapi kemudian saya mendengar jendela bergetar ... saya merasakan guncangan kedua yang jauh lebih kuat sehingga saya langsung berlari menuruni tangga," kenang warga Caracas lainnya, Giancarlo Bravo.
Sementara itu, laporan dampak terhadap warga asing mulai bermunculan, termasuk dari Kementerian Luar Negeri Italia yang mengonfirmasi salah satu korban tewas merupakan warga negara ganda Italia-Venezuela kelahiran tahun 1970 yang tertimpa bangunan runtuh di wilayah bagian La Guaira.
Pemerintah Italia memperkirakan ada sekitar 170.000 pemegang paspor mereka di sana, sehingga Menteri Luar Negeri Antonio Tajani berjanji akan segera menerbangkan personel darurat dan pesawat militer untuk membantu penanganan medis di lokasi bencana.
"Pemerintah akan melakukan apa pun yang bisa dilakukan untuk membantu rakyat Venezuela dan untuk berada dekat dengan komunitas besar warga Italia yang tinggal di sana," ungkap Tajani melalui akun media sosial resminya.
Lembaga bantuan kemanusiaan seperti Oxfam International memperingatkan bahwa bencana ini akan memperparah kelumpuhan layanan publik dan merusak ekonomi nasional yang rapuh akibat sanksi bertahun-tahun, di mana 7,9 juta warga sebenarnya sudah membutuhkan bantuan logistik sebelum gempa terjadi.
Merespons krisis tersebut, Departemen Luar Negeri AS berkomitmen mengucurkan bantuan sebesar US$ 150 juta (Rp 2,7 triliun), yang dialokasikan sebesar US$ 50 juta (Rp 900 miliar) untuk LSM lokal dan US$ 100 juta (Rp 1,8 triliun) via badan PBB OCHA, serta menerjunkan Tim Bantuan Respons Bencana (DART) dengan dukungan Departemen Pertahanan AS.
Di sisi lain, komunitas diaspora Venezuela di wilayah Florida dan Houston, AS, mulai bergerak cepat menggalang dana, obat-obatan, dan air bersih, meskipun penutupan bandara utama di Caracas diprediksi akan menghambat pengiriman logistik darurat tersebut. Di panggung politik Washington,
Kaukus Hispanik Kongres langsung melayangkan surat desakan agar pemerintahan Presiden Donald Trump menghentikan deportasi massal dan memulihkan Status Perlindungan Sementara (TPS) bagi warga Venezuela.
"Hal ini mengingat pemulangan imigran ke negara yang sedang dilanda bencana aktif sangat tidak manusiawi," ujar mereka.
source on Google [Gambas:Video CNBC]