Sekutu AS di Arab Cemas, Deal Trump-Iran Bisa Jadi Sumber Masalah Baru
Jakarta, CNBC Indonesia - Para pemimpin negara Arab di Teluk Persia mulai mengkhawatirkan draf kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Mereka menilai draf perjanjian yang diinisiasi Presiden Donald Trump tersebut bisa menjadi titik balik yang membawa bencana bagi keamanan regional.
Mengutip analisis CNN International, Kamis (25/6/2026), kekhawatiran ini muncul setelah wilayah Teluk ikut hancur akibat serangan balasan selama perang berkepanjangan antara AS-Israel melawan Iran. Situasi tersebut memaksa negara-negara Arab mempertanyakan kembali komitmen perlindungan militer dari pihak Washington.
Para pakar menilai kesepakatan damai ini merupakan bagian dari mundurnya pengaruh militer AS di kawasan Timur Tengah. Pengalihan sumber daya finansial ke Iran dikhawatirkan akan membuat Teheran bertindak jauh lebih berani di masa depan.
"Dari perspektif negara-negara Arab Teluk, perang Iran adalah titik balik yang membawa bencana bagi tatanan keamanan regional. Pengurangan keterlibatan AS di Teluk dan aliran sumber daya finansial serta ekonomi ke Iran kemungkinan akan membuat Teheran semakin berani," kata Hasan Alhasan selaku peneliti senior di International Institute for Strategic Studies (IISS).
Meskipun diliputi kecemasan besar, negara-negara Teluk Arab tetap memfasilitasi dan mendukung draf gencatan senjata tersebut. Bagi mereka, kesepakatan yang buruk masih jauh lebih baik daripada harus melanjutkan perang terbuka.
"Meskipun demikian, negara-negara Teluk Arab telah memfasilitasi dan mendukung kesepakatan gencatan senjata Iran-AS. Bagi mereka, kesepakatan yang buruk masih lebih baik daripada perang," tambah Alhasan kepada CNN.
Kami Ingin Mendengar Pemikiran Mereka
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, langsung melakukan kunjungan kilat ke Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, dan Kuwait. Ketiga negara tersebut merupakan wilayah yang menerima dampak kerusakan paling parah akibat serangan rudal Iran selama perang.
Rubio membawa misi diplomatik yang berat untuk meyakinkan para sekutu bahwa komitmen keamanan dari Washington sama sekali tidak luntur. Ia menegaskan bahwa pandangan negara-negara mitra akan tetap diperhitungkan dalam setiap keputusan strategis.
"Kami ingin mendengar pemikiran mereka, terutama setelah akhir pekan ini di Swiss, dan memastikan bahwa pandangan mereka diperhitungkan dalam setiap keputusan yang kami buat, karena mereka adalah mitra kami," ujar Rubio kepada wartawan saat mendarat di Abu Dhabi.
Negara-negara Teluk kini mengalami penurunan kepercayaan yang besar terhadap stabilitas politik dan militer AS. Seorang diplomat senior Teluk mengungkapkan bahwa konflik kemarin membuktikan Iran memiliki rencana matang untuk menargetkan negara-negara Arab.
Kecemasan ini kian beralasan karena draf kesepakatan baru memberikan peran formal bagi Iran untuk mengawasi lalu lintas komersial di Selat Hormuz. Hal tersebut membuat sebagian besar jalur perdagangan maritim dan ekspor energi negara Teluk berada di bawah kendali Teheran.
Selain itu, perjanjian damai ini sama sekali tidak menyentuh program rudal balistik Iran maupun jaringan kelompok milisi proksinya. Trump justru terkesan meremehkan masalah tersebut dengan menyebut wajar bagi Iran memiliki rudal jika Arab Saudi juga memilikinya.
Perjanjian ini juga mewajibkan pengumpulan dana rekonstruksi sebesar USD 300 miliar untuk membangun kembali wilayah Iran. Trump berkomitmen melibatkan pendanaan dari negara Teluk, meski pihak Arab Saudi mengaku belum menerima rincian proposal tersebut.
Mengakomodasi Iran
Negara-negara Teluk menyadari bahwa saat ini mereka tidak memiliki banyak alternatif selain AS sebagai mitra keamanan utama. Namun, ketergantungan militer yang memudar mulai mendorong negara-negara tersebut untuk mendiversifikasi pengadaan senjata mereka.
Beberapa negara Arab kini dilaporkan mulai melirik Turki sebagai pemasok senjata alternatif untuk memperkuat pertahanan mereka. Perang ini memaksa para pemimpin Teluk untuk memikirkan akomodasi jangka panjang secara mandiri dengan pihak Iran.
Otoritas regional bahkan mulai mempertimbangkan draf pakta non-agresi regional secara langsung dengan Teheran tanpa melibatkan AS. Namun, para analis mengingatkan bahwa jalur diplomasi saja tidak akan cukup kuat untuk menjamin keamanan tanpa adanya kekuatan pencegah yang kredibel.
"Pakta non-agresi sepertinya tidak akan mengubah kalkulasi strategis Iran. Untuk melakukannya, negara-negara Teluk Arab harus terlebih dahulu memperbaiki ketidakseimbangan strategis dengan Iran melalui efek pencegahan yang kredibel, pertahanan yang ditingkatkan dan terintegrasi, serta langkah-langkah ketahanan yang kuat," jelas Alhasan memberikan catatan kritis.
Memikirkan Kembali Hubungan
Para komentator dan media yang berafiliasi dengan pemerintah Arab kini mulai mengubah retorika konfrontatif mereka terhadap Iran. Mereka mulai mengkaji peluang diplomasi untuk mengubah perilaku politik luar negeri Republik Islam tersebut.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap AS sebagai sekutu strategis yang dapat diandalkan kini sangat dipertanyakan. Perang ini menjadi puncak dari kekecewaan mendalam yang merusak keyakinan negara Arab terhadap janji perlindungan Washington.
"Negara-negara Teluk... perlu membuat akomodasi dengan Iran karena mereka tidak sepenuhnya mempercayai Amerika Serikat. Dalam jangka panjang, ini bukan hanya soal ketegangan yang mereda, tetapi juga soal pencegahan. Mereka harus mendirikan kemampuan militer mereka sendiri," pungkas Firas Maksad selaku direktur pelaksana untuk Timur Tengah dan Afrika Utara di Eurasia Group.
(tps/luc) Add
source on Google