Bahaya Baru Muncul di Amerika, PHK Dekati Krisis Keuangan 2009
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemutusan hubungan kerja (PHK) di pabrik-pabrik Amerika Serikat (AS) mendekati level tertinggi sejak berakhirnya krisis keuangan global tahun 2009. Bahkan angka ini juga mendekati level saat pandemi Covid-19 terjadi di 2020.
Hal tersebut merujuk ke laporan S&P Global Selasa. Kekhawatiran meningkat atas permintaan global dan kenaikan biaya.
Sebenarnya, PMI Manufaktur AS awal bulan Juni berada di 55,7, angka tertinggi dalam 49 bulan. Angka tersebut naik tipis dari 55,1 di bulan Mei.
Output meningkat pada kecepatan yang terakhir terlihat pada bulan Juli 2021. Itu didorong oleh lonjakan pesanan baru paling tajam dalam lebih dari empat tahun.
Namun jumlah pekerja menurun selama dua bulan berturut-turut. Pasalnya, perusahaan-perusahaan memprioritaskan pengendalian biaya dibandingkan dengan harga bahan baku yang masih tinggi dan ketidakpastian permintaan.
"Yang paling mengkhawatirkan adalah penurunan lapangan kerja, terutama di sektor manufaktur," kata Kepala Ekonom Bisnis S&P Global Market Intelligence, Chris Williamson, dikutip Rabu (24/6/2026).
"PHK di pabrik mencapai tingkat tertinggi sejak 2009 jika pandemi ini tidak dikesampingkan, hal ini mencerminkan kekhawatiran atas keberlanjutan peningkatan permintaan baru-baru ini serta kekhawatiran atas meningkatnya biaya bahan mentah," tambahnya.
"Pemutusan hubungan kerja di pabrik berada pada level tertinggi sejak 2009 jika pandemi dikecualikan, mencerminkan kekhawatiran tentang keberlanjutan peningkatan permintaan baru-baru ini di samping kekhawatiran tentang meningkatnya biaya bahan baku."
Meski ada kekhawatiran tentang PHK di sektor manufaktur, gambaran lapangan kerja sebagian besar solid tahun ini di AS. Ada peningkatan yang kuat dalam empat dari lima bulan.
Menurut Biro Statistik Tenaga Kerja AS, lapangan kerja di sektor manufaktur telah meningkat sebesar 23.000 pada tahun 2026.
Namun memang, mengutip CNBC International, perusahaan-perusahaan telah berada di bawah tekanan tahun ini akibat kebangkitan inflasi yang disebabkan lonjakan harga energi dan kemungkinan kenaikan atau penundaan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
"Gencatan senjata dan kemungkinan kesepakatan jangka panjang dengan Iran telah memicu penurunan harga minyak yang pada gilirannya membantu memulihkan kepercayaan di kalangan bisnis," kata Williamson memberi harapan positif.
(sef/sef) Add
source on Google