Internasional

Netanyahu Makin Panas ke Trump, Israel Menuju Pecah Kongsi dengan AS

sef, CNBC Indonesia
Rabu, 24/06/2026 13:00 WIB
Foto: Para pengunjuk rasa memegang papan bertuliskan gambar Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu selama demonstrasi dengan slogan "Turunkan Trump dan Zionisme", di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Madrid, Spanyol, 21 Maret 2026. (REUTERS/Jon Nazca)

Jakarta, CNBC Indonesia- Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pada hari Selasa bahwa Israel harus mengurangi ketergantungannya pada dukungan asing dan membangun sistem persenjataan independen sendiri. Pernyataan diberikan di tengah perbedaan pendapat antara pemerintahannya dan pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Laporan pertama dimuat media Turki, Anadolu. Berbicara dalam pertemuan dengan perwira tempur cadangan Israel di Tepi Barat yang diduduki, Netanyahu mengatakan Israel menghargai bantuan yang telah diterimanya dari Washington tetapi harus memperkuat kemampuannya sendiri.

"Saya sangat menghargai dukungan yang telah diterima Israel dari teman-teman Amerika kami, tetapi kami perlu melepaskan diri dari ketergantungan dan membangun sistem persenjataan independen kami sendiri," kata Netanyahu seperti dikutip juga oleh situs berita Israel Ynet, Rabu (24/6/2026).

"Kita perlu melepaskan diri dari ketergantungan, membangun kekuatan yang lebih dan lebih, memperkenalkan lebih dan lebih teknologi, melatih lebih dan lebih banyak generasi komandan seperti Anda - karena itulah yang pada akhirnya akan menentukan di mana kita akan berada," tambahnya lagi menegaskan Israel harus terus memperluas kekuatan militer dan kemampuan teknologinya.


Menurut data Council on Foreign Relations, sejak didirikan pada tahun 1948, Israel telah menerima lebih dari US$300 miliar (sekitar Rp5,4 kuadriliun). Data ini disesuaikan dengan inflasi, dalam bentuk bantuan ekonomi dan militer AS, yang jauh lebih banyak daripada negara lain mana pun.

Berdasarkan perjanjian yang ditandatangani pada tahun 2016 dan berlaku sejak 2019, Israel menerima bantuan keuangan untuk pembelian senjata senilai sekitar US$3,8 miliar per tahun, yang mencakup sekitar 15 persen dari anggaran pertahanan. Perjanjian tersebut berlaku hingga tahun 2028.

Sebelumnya, perselisihan makin kencang antara AS dan Israel sejak Washington sepakat dengan Iran mengenai nota kesepahaman (MOU) guna mengakhiri perang. Ini termasuk Lebanon, yang terus diserang Israel karena keberadaan kelompok pro-Iran, Hizbullah.

Kamis lalu, Wakil Presiden AS JD Vance mengkritik tajam para menteri dalam pemerintahan Netanyahu atas penentangan mereka terhadap perjanjian AS-Iran. Ia mengatakan, jika dirinya berada di kabinet pemerintah Israel, ia pasti tidak akan menyerang satu-satunya sekutu kuat negeri itu tersisa di seluruh dunia.

"Selama tiga bulan terakhir, dua pertiga dari senjata pertahanan yang telah melindungi tanah air Anda telah dibangun oleh tangan Amerika dan dibayar dengan uang pajak Amerika," kata Vance.

"Masalah bagi Israel bukanlah Donald J. Trump, dan siapa pun di Israel yang berpikir bahwa masalah terbesar mereka adalah Presiden Amerika Serikat perlu bangun dan menyadari kenyataan situasi yang dihadapi negara itu," tambahnya.

Perlu diketahui, ada 14 poin dalam MOU yang dimediasi oleh Pakistan. Perjanjian tersebut mencakup ketentuan-ketentuan terkait pengakhiran perang, termasuk di Lebanon, pembukaan kembali Selat Hormuz, dan pencabutan blokade angkatan laut AS yang dikenakan pada Iran.


(sef/sef) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video:Update Damai AS-Iran: Kata Arab Saudi-Israel Masih Keras Kepala