Internasional

Tiba-Tiba Xi Jinping "Bersih-Bersih" Perusahaan China, Ada Apa?

sef, CNBC Indonesia
Selasa, 23/06/2026 16:40 WIB
Foto: Presiden China Xi Jinping menyampaikan pidato virtual dalam KTT Perubahan Iklim PBB pada hari Rabu kemarin (25/9/2025). (Reuters TV)

Jakarta, CNBC Indonesia - China kembali melakukan "bersih-bersih" ke para pengusahanya. Pemerintah Presiden Xi Jinping meningkatkan "penegakan peraturan perusahaan" sejak awal 2026.

Sebelumnya, China sempat melakukan tindakan keras ke pengusaha tahun 2021. Kala itu, langkah tersebut menghapus lebih dari US$1 triliun dari saham teknologi Tiongkok.

"Konsentrasi tindakan dan jumlah perusahaan yang terlibat mau tidak mau mengingatkan kita pada tindakan keras regulasi terhadap perusahaan platform internet dari lebih dari lima tahun yang lalu," kata Kepala Strategi China di Evercore, Neo Wang, mengutip CNBC International, Selasa (23/6/2026).


"Negara menegaskan kembali kendali politik atas data, ekspansi modal, ideologi bimbingan belajar, pencatatan saham di luar negeri, dan kekuatan platform, bersamaan dengan pembiayaan yang berlebihan," kata mitra dan pemimpin kebijakan teknologi untuk China di DGA-Albright Stonebridge Group, sebuah perusahaan penasihat global, Paul Triolo.

Secara rinci, di Januari, Beijing meluncurkan penyelidikan antimonopoli terhadap Trip.com atas dugaan "penyalahgunaan dominasi pasar. Hal ini memaksa para pedagang untuk membuat perjanjian eksklusif sebelum menaikkan biaya komisi.

Langkah ini menyebabkan saham perusahaan di Hong Kong turun hampir 20% dalam satu hari. Analis Citibank memperkirakan penyelidikan antimonopoli yang sedang berlangsung dapat mengakibatkan denda hingga 4,9 miliar yuan (sekitar Rp 13 triliun rupiah).

Pada bulan Mei, regulator pasar China juga mengeluarkan sanksi keamanan pangan paling keras, menjatuhkan denda gabungan sebesar 3,6 miliar yuan kepada beberapa platform e-commerce dan pengiriman makanan. Mereka disebut menampung vendor yang tidak terverifikasi yang bersaing dalam hal harga.

Menjelang festival belanja "618", event terbesar diskon di China, regulator kota Beijing pun memanggil pengecer online termasuk Xiaohongshu- yang dilaporkan telah bersiap untuk mengajukan penawaran umum perdana (IPO) secara rahasia di Hong Kong- atas iklan subsidi yang menyesatkan. Otoritas juga melaporkan ada mekanisme biaya tersembunyi yang mengalihkan biaya kepada pedagang.

Sementara itu, pada minggu yang sama, SAMR memanggil manajemen senior Walmart China untuk pertemuan pertanggungjawaban formal terkait kegagalan keamanan pangan yang berulang di jaringan gudang keanggotaannya, Sam's Club, dan mendesak perbaikan kontrol rantai pasokannya. Sam's Club telah membentuk gugus tugas perbaikan untuk memperbaiki inspeksi rantai pasokan dan mengganti ketuanya dengan Liu Peng, mantan eksekutif di Alibaba.

Terkendali dan Terukur

Sementara itu, meski "bersih-bersih" dilakukan, sejumlah analis menilai apa yang dilakukan China saat ini sangat terukur. Triolo mengatakan situasinya telah berubah.

"Kini pembuat kebijakan kini lebih waspada terhadap perekonomian yang terbebani oleh permintaan domestik yang lesu, pasar kerja yang lambat, dan keinginan agar perusahaan teknologi swasta meningkatkan investasi dalam infrastruktur komputasi yang mendukung ambisi AI negara," katanya.

"Beijing berupaya untuk bertindak tetapi tanpa memicu kepanikan investor yang luas lainnya," tambahnya.

"Regulator jauh lebih terkendali daripada tahun 2021."

Hal sama juga dikatakan Direktur The Asia Group untuk China, Han Shen Lin. Ia mengatakannya Beijing membutuhkan kepercayaan sektor swasta, lapangan kerja, dan investasi teknologi jauh lebih banyak daripada yang dibutuhkan pada tahun 2021.

Ini terlihat dari usaha di 2025, saat Presiden China Xi Jinping mengatakan kepada para pengusaha top negara itu, termasuk Jack Ma dari Alibaba. Langkah itu untuk "menunjukkan bakat mereka" di era baru bagi ekonomi swasta negara itu.

"Langkah-langkah tersebut lebih berupa sinyal terukur daripada penindakan berkelanjutan," tegas analis riset di Rhodium Group, Ciel Qi.


(sef/sef) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Trump, Xi & Putin: Peta Baru Kekuatan Dunia