Economic Update 2026

Bukan Belanja Pemerintah, Purbaya Ungkap Motor Pertumbuhan Ekonomi RI

Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
Selasa, 23/06/2026 09:40 WIB
Foto: Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa saat menyampaikan pemaparan dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Juni 2026 di kantor pusat Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Jumat (5/6/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa membeberkan motor penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia, di mana bukan belanja pemerintah yang menjadi penggerak ekonomi RI.

Purbaya mengatakan kontribusi belanja pemerintah ke ekonomi hanya mencapai 7,7%. Sedangkan sisanya digerakan oleh private sector atau sektor swasta.


"Kalau kita lihat kan kontribusi belanja pemerintah ke ekonomi hanya 7,7 persenan, sekitar segitu ya. Sisanya private sector. Jadi kalau private sector yang enggak gerak, hampir pasti kita enggak bisa tumbuh sebesar 5,61% triwulan pertama 2026," kata Purbaya dalam Economic Update 2026 CNBC Indonesia, dikutip Selasa (23/6/2026).

Purbaya melanjutkan strategi Presiden Prabowo agar ekonomi RI kuat yakni belanja pemerintah dan belanja masyarakat secara bersamaan tumbuh.

"Jadi ini menunjukkan bahwa strategi Bapak Presiden untuk membangun perekonomian di pemerintah dan di sektor swasta itu berjalan dengan baik. Belanja pemerintah juga hidup. Belanja masyarakat juga tumbuh dengan signifikan," tegasnya.

"Padahal kalau kita kalikan pemerintah dengan share-nya, belanja masyarakat dengan share yang 55% lebih itu, belanja masyarakat itu berkontribusi sekitar 2,9% ke angka yang 5,6% itu. Investasi 1,9%, belanja pemerintah cuma 1,34%," ujar Purbaya.

Purbaya menambahkan, ada dua mesin penggerak ekonomi RI yang dinilai masih cukup kuat yakni penjualan mobil dan penjualan semen. Penjualan mobil mampu tumbuh 55% dan motor mencapai pertumbuhan 28,1%.

Lalu, data konsumsi BBM untuk transportasi dan industri pada periode Maret mampu tumbuh cepat. BBM ritel tumbuhnya mencapai 11,9% pada akhir tiga bulan pertama tahun ini, BBM industri 17%, dan total konsumsi BBM naik 13%.

Penjualan listrik pun ia sebut masih mampu tumbuh tinggi menandakan konsumsi listrik rumah tangga, bisnis dan industri meningkat karena bergeliatnya ekonomi, total pertumbuhannya mencapai 19%.

Selain itu, konsumsi semen domestik yang mendukung program pembangunan di tanah air, pertumbuhannya bahkan kata Purbaya mampu menembus level 35,6% pada April 2026.

"Jadi memang lebih tinggi dari sebelumnya, tapi bukan berarti ini hanya satu-satunya mesin pertumbuhan. Jadi daya beli masyarakat masih cukup baik kalau kita lihat dari angka yang ada," terangnya.


(arj/arj) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Pengusaha ungkap daya beli warga RI di tengah ketidakpastian global