Berburu Perusahaan Nakal, Purbaya Manfaatkan AI!
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa membeberkan cara untuk memburu perusahan nakal yang telah melakukan praktik under-invoicing.
Purbaya menggunakan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk mencari perusahaan-perusahaan yang telah membuat setoran negara mengalami kebocoran.
"Kita punya trading intelligence yang cukup canggih, kita juga terapkan AI di situ sehingga kerjanya lebih cepat untuk monitor atau mencari siapa saja (perusahaan) yang main-main," kata Purbaya dalam Economic Update 2026 CNBC Indonesia, dikutip Selasa (23/6/2026).
Purbaya menjelaskan, awal dari penanganan under-invoicing dilakukan dengan membentuk tim investigasi dari jajaran Kementerian Keuangan (Kemenkeu).
"Kita bentuk tim khusus di Kementerian Keuangan disebut Tim 10. Kita lihat data pengapalan, saya periksa CPO dulu, 10 perusahaan CPO terbesar di sini, export-nya berapa ke Singapura," lanjut Purbaya
Kemudian, pihaknya juga mengakses data negara tujuan tersebut, di mana 10 perusahaan juga menaruh uangnya ke Amerika Serikat (AS), selain Singapura.
"Rupanya kita punya juga akses ke data yang negara tujuannya. Saya ambil contoh yang AS dulu, 10 itu kesana gimana sih? Ambil 3 kapal dari perusahaan itu secara random, diperiksa gimana hasilnya, kelihatannya gitu," jelas Purbaya.
Pihaknya juga mendata harga penjualan dari CPO tersebut di Singapura dan AS, di mana harga lebih tinggi di AS dibandingkan dengan di Singapura.
"Dari sini ke Singapura dijual misalnya 5 harganya, di Amerika harganya bukan 5 tapi 10. Jadi saya rugi 50% dari export tax maupun dari income tax-nya. Dan nanti kan uang hasilnya bukan masuk ke sini kan, sebagian ditaruh di luar," tegasnya.
Selain itu, pihaknya juga terus berkoordinasi dengan Kejaksaan Agung (Kejagung) dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) terkait masalah kebocoran setoran negara tersebut.
"Saya pikir atas arahan Bapak Presiden, saya follow up itu lagi dengan Kejagung dan BPKP, kalau itu bisa dibalaskan nanti kan ke depannya income tax akan lebih besar. Dari export dan dari supply dolarnya di sini," ujar Purbaya.
(arj/arj) Add
source on Google