Resmi! AS-Iran Akhirnya Sepakati Hal Ini, Perdamaian Makin Terang
Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat resmi memberikan keringanan sanksi terhadap Iran selama 60 hari mulai Senin (22/6/2026) waktu setempat, menyusul putaran pertama perundingan pasca-kesepakatan damai sementara yang digelar di Swiss. Di saat yang sama, para pejabat melaporkan meredanya pertempuran di Lebanon di bawah kerangka perjanjian yang bertujuan mengakhiri konflik di berbagai front kawasan Timur Tengah.
Langkah tersebut menjadi perkembangan penting setelah akhir pekan yang sempat memunculkan kekhawatiran bahwa kesepakatan yang baru berusia sepekan itu berada di ambang kegagalan. Ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan melanjutkan perang jika Iran mengganggu pelayaran di Selat Hormuz menyusul deklarasi Teheran yang menyatakan jalur perairan strategis tersebut ditutup.
Meski demikian, lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz mulai meningkat kembali pada Senin, sementara harga minyak dunia melanjutkan tren penurunan.
Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan pembicaraan dengan pejabat Iran di Swiss telah menciptakan fondasi yang kuat menuju perjanjian damai permanen. Namun, Iran membantah bahwa pihaknya telah memulai pembahasan mengenai program nuklirnya.
Konflik yang melibatkan serangan AS-Israel terhadap Iran serta serangan Israel di Lebanon telah menewaskan ribuan orang dan memaksa jutaan warga mengungsi. Perang tersebut juga mengguncang pasar global serta mendorong kenaikan harga minyak dunia. Namun setelah Vance melaporkan adanya kemajuan dalam negosiasi, harga minyak ditutup turun sekitar 3% pada Senin.
Peta Jalan Menuju Kesepakatan Permanen
Dalam perundingan yang berlangsung di resor pegunungan Buergenstock, Swiss, yang dimiliki Qatar, kedua pihak berupaya membangun kesepakatan lebih lanjut berdasarkan perjanjian sementara yang ditandatangani pekan lalu.
Mediator Pakistan dan Qatar menyatakan kedua pihak telah menyepakati peta jalan menuju perjanjian permanen dalam waktu 60 hari. Selain itu, mereka juga menyetujui mekanisme untuk mengakhiri pertempuran di Lebanon antara Israel yang merupakan sekutu AS dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran.
Kesepakatan juga mencakup pembukaan jalur komunikasi guna memastikan kapal-kapal komersial dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman dan menghindari potensi konflik di jalur pelayaran yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia tersebut.
Sebagai bagian awal dari paket bantuan ekonomi kepada Iran, Departemen Keuangan AS mengumumkan pembebasan sementara sanksi hingga 21 Agustus. Kebijakan itu memungkinkan Iran menjual minyak dan produk terkait serta menerima pembayaran atas ekspor tersebut.
Optimisme AS
Sejak nota kesepahaman ditandatangani, Vance terus menyampaikan nada optimistis mengenai prospek diplomasi dengan Iran.
Usai mengikuti perundingan di Swiss, Vance mengatakan Teheran telah menyetujui masuknya inspeksi nuklir serta pembentukan mekanisme untuk mengelola aset Iran yang dibekukan di luar negeri dan mengawasi pelaksanaan gencatan senjata.
"Kami telah meletakkan fondasi yang sangat baik untuk sebuah kesepakatan akhir yang sukses," kata Vance, dilansir Reuters.
Namun, pernyataan itu langsung dibantah Teheran.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan kepada kantor berita IRNA bahwa Iran belum membahas isu nuklir maupun membuat komitmen baru terkait program tersebut.
Di Washington, Trump menegaskan keyakinannya bahwa Iran pada akhirnya akan menerima inspeksi senjata untuk memastikan apa yang ia sebut sebagai kejujuran dalam program nuklir negara itu. Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyatakan Iran akan menyetujui pemeriksaan senjata guna memastikan "kejujuran nuklir".
"Jika Iran tidak mematuhi perjanjian mereka, atau jika mereka tidak berperilaku sebagaimana mestinya, saya akan melakukan apa yang harus saya lakukan," ujar Trump.
Iran diketahui telah membatasi inspeksi yang dilakukan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sejak AS dan Israel melancarkan gelombang pertama serangan udara tahun lalu. Ketika perang pecah pada Februari, Iran bahkan menghentikan seluruh inspeksi tersebut.
Meski demikian, Teheran terus menegaskan bahwa program nuklirnya bertujuan damai.
Iran Klaim Dapat Konsesi Penting
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan melalui media sosial bahwa negaranya berhasil memperoleh sejumlah konsesi penting dari pembicaraan terbaru tersebut.
Menurut Araqchi, Iran mendapatkan pembebasan sanksi untuk ekspor minyak dan petrokimia, pelepasan sebagian aset Iran yang dibekukan di luar negeri, serta peluncuran rencana rekonstruksi dan pembangunan ekonomi.
Di sisi lain, Vance mengungkapkan bahwa utusan Gedung Putih Jared Kushner, yang juga menantu Trump, telah menyusun mekanisme pengelolaan dana Iran yang dibebaskan.
Menurut Vance, dana tersebut nantinya berada di bawah pengawasan bersama AS dan Qatar setelah dicairkan dan dapat digunakan untuk membeli komoditas pertanian AS seperti jagung, kedelai, dan gandum.
"Jadi, uang yang kami bebaskan itu akan mengalir kepada para petani kami," kata Trump.
Namun kembali muncul perbedaan interpretasi.
Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnaser Hemmati, sebagaimana dilaporkan kantor berita Tasnim, membantah adanya kewajiban tersebut. Menurutnya, setidaknya sebagian dana Iran yang masih dibekukan dapat digunakan untuk membeli barang lain yang tidak terkena sanksi.
(luc/luc) Add
source on Google