Mentan Amran Tunjuk Hidung Musuh Negara, Ini Sosoknya
CNBC Indonesia - Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengeluarkan peringatan keras terhadap komentar-komentar tak berdasar cenderung memfitnah pemerintah. Termasuk, yang mengkritik deklarasi swasembada pangan di RI, tanpa memberi saran membangun.
Hal itu disampikannya dalam Economic Update 2026 CNBC Indonesia dengan tema "Capaian Kinerja dan Arah Penguatan Program Prioritas Kementerian", Senin (22/6/2026).
Amran menegaskan, Indonesia sudah mencapai swasembada pangan. Mengonfirmasi deklarasi oleh Presiden Prabowo Subianto pada 7 Januari 2026 lalu.
Hanya saja, kata Amran, masih ada saja pihak-pihak yang tidak bahagia jika Indonesia mampu mencapai swasembada pangan, berdaulat pangan.
"Contoh yang mengkritik dulu bahwa tidak swasembada, ke mana dia saat kita impor? Pada diam semua. Apa maksudnya kira-kira," tukasnya.
"Kalau dia mengatakan kita tidak swasembada, terus katakanlah kita dengar mereka, pemerintah dengar mereka, kita impor kan? Impor artinya memperkuat negara lain, kan? Vietnam, Thailand, Pakistan, India. Benar nggak? Kesimpulannya, antek asing kan?" sambungnya.
Dengan membuka keran impor, ujarnya, berarti mendukung peningkatan kesejahteraan petani di negara lain.
"Dia lebih mencintai petani negara lain daripada petani Indonesia 115 juta. Benar nggak? Ya, musuh negara, kan?" cetus Amran.
"Kalau dia mengkritik konstruktif, contoh, ada kekeringan. Itu ada kekeringan. Pasti turun produksi. Terima kasih. Terus, 'Ah, pak Mentan, ini ada berasnya Bulog kurang bagus.' Aku terima kasih," ucapnya.
Namun, jika kritikan yang dilontarkan adalah fitnah belaka, Amran menegaskan akan melawan.
"Tapi kalau memfitnah Presiden, memfitnah orang, nah ini kita harus lawan. Karena pasti dia punya agenda terselubung," ucap Amran.
Soal ada pihak yang mempertanyakan data, Amran pun menyarankan agar langsung menanyakannya ke FAO sebagai pihak yang menetapkan definisi swasembada pangan.
"Ada yang mengatakan, datanya dipertanyakan. Ya jangan tanya ke saya, tanya ke FAO. Yang keluarkan data bahwa produksi Indonesia 35 juta ton (beras), FAO. Yang keluarkan data, bahwa produksi Indonesia meningkat tajam adalah, United States Department of Agriculture (USDA/ Kementan AS), Amerika. Yang mengatakan, swasembada adalah BPS, bukan saya," cetusnya.
"Ini kan fakta ya, ini ilmu eksakta, tidak bisa main-mainkan. Yang pertama adalah swasembada pangan. Bukan dari pemerintah, itu dari FAO, dunia. Yang dikatakan swasembada adalah impor diperbolehkan maksimal 10%. Itu tahun 1999 disampaikan FAO," kata Amran.
Karena itu, Amran menegaskan, data-data swasembada pangan Indonesia dapat dipertanggungjawabkan.
(dce/dce) Add
source on Google