Banyak Pabrik Relokasi ke Jateng, Bos Pengusaha Beri Catatan Ini

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Jumat, 19/06/2026 14:45 WIB
Foto: Ilustrasi Lahan Industri. (Dok Ist)

Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang relokasi industri ke Jawa Tengah dalam beberapa tahun terakhir dinilai menjadi peluang agar wilayah tersebut bisa menjadi pusat investasi manufaktur nasional. Namun, kalangan pengusaha mengingatkan masih ada sejumlah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan agar arus investasi yang masuk bisa terus berlanjut dan berkembang.

"Percepatan pembangunan infrastruktur logistik, penguatan pelabuhan, pengembangan dry port di Batang dan Kendal, serta integrasi kawasan industri dengan jaringan rantai pasok nasional dan global menjadi agenda prioritas yang harus segera diwujudkan," kata Ketua Bidang Ketenagakerjaan APINDO Bob Azam dalam keterangannya, Jumat (19/6/2026).

Apalagi belakangan tengah tren relokasi industri yang bukan hanya antar provinsi, misalnya dari Jawa Barat ke Jawa Tengah, namun juga global dari China ke wilayah Asia Tenggara. Posisi geografis yang berada di jantung Pulau Jawa serta kawasan industri yang terus berkembang, hingga iklim investasi yang dinilai kondusif menjadi modal.


"Di tengah gelombang relokasi industri global akibat strategi China+1 dan meningkatnya biaya produksi di sejumlah negara tujuan investasi, Jawa Tengah dinilai berada pada posisi yang sangat strategis untuk menangkap arus investasi baru dan menjadi motor pertumbuhan ekonomi nasional," kata Bob.

Sebagai catatan, China +1 adalah strategi perusahaan-perusahaan China melebarkan bisnisnya ke negara lain sebagai langkah perpanjangan rantai pasok, tidak lagi hanya terpusat di China.

Pemerintah daerah sendiri telah mengusulkan revitalisasi pelabuhan kepada pemerintah pusat. Selain itu, pengembangan Dry Port Batang disebut telah memperoleh persetujuan sebagai pendukung logistik.

Sementara itu, Dewan Pakar APINDO Anton J. Supit menilai penguatan daya saing investasi tidak hanya bergantung pada faktor domestik. Menurutnya, perluasan akses pasar ekspor juga menjadi faktor penting untuk meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi manufaktur.

"Investasi perlu didukung oleh penguatan akses pasar global, termasuk melalui penyelesaian dan implementasi Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA), yang berpotensi meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi dan basis ekspor," kata Anton.


(dce) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Ahmad Luthfi Kritik Ajakan Impeachment, Jangan Asal Njeplak!