Harga BBM Pertamax Cs Bisa Turun Lagi, Ini Indikasinya
Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta PT Pertamina (Persero) menegaskan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi ditetapkan mengikuti mekanisme pasar. Dengan demikian, naik dan turunnya harga BBM jenis Pertamax Series sangat dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak mentah dunia.
Jika melihat tren harga minyak mentah global saat ini, terdapat peluang harga BBM non subsidi kembali mengalami penurunan pada periode mendatang.
Berdasarkan data Refinitiv pada Kamis (18/6/2026) pukul 09.40 WIB, harga minyak mentah Brent berada di level US$78,28 per barel atau turun 1,6% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang mencapai US$79,55 per barel.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat sebesar US$75,42 per barel, melemah 1,8% dari posisi sehari sebelumnya yang berada di level US$76,79 per barel.
Berdasarkan Research CNBC Indonesia, sejak 12 Juni lalu, Brent telah turun lebih dari 10%, sedangkan WTI anjlok sekitar 11%.meskipun Juni harga Brent sempat menyentuh US$97,81 per barel dan WTI mencapai US$96,02 per barel.
Dalam kurun waktu sekitar dua pekan, Brent telah kehilangan hampir US$20 per barel, sementara WTI terkoreksi lebih dari US$20 per barel. Artinya sepanjang bulan ini, Brent sudah jatuh 14,9% sementara WTI merosot 13,5%
BBM Pertamax mengikuti harga pasar
Juru Bicara Menteri ESDM, Dwi Anggia sempat mengatakan bahwa harga BBM non-subsidi diantaranya produk RON 92 Pertamax bisa kembali turun. Hal ini jika harga minyak dunia juga turun.
Dwi menjelaskan BBM non-subsidi mengikuti mekanisme harga pasar. Hal itu juga tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 245.K/MG/01/MEM.M/2022 yang mengatur formula harga dasar perhitungan eceran BBM.
"Apakah (Pertamax) bisa turun lagi? pasti. Ketika harga minyak dunia turun, sudah bisa dipastikan harga BBM non-subsidi juga akan turun. Begitu juga sebaliknya, ketika harga minyak dunia mengalami kenaikan, mau tidak mau, tidak terhindarkan harga BBM non-subsidi harus menyesuaikan dengan harga keekonomiannya," katanya, di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah, Rabu (17/6/2026).
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun mengatakan penjelasan penetapan dan penyesuaian harga BBM non subsidi ini sejalan dengan informasi yang telah disampaikan pemerintah bahwa Pertamax series merupakan BBM non subsidi yang harga jualnya mengikuti perkembangan parameter pasar sesuai formula yang berlaku.
Sementara itu, BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar ditetapkan pemerintah tidak ada perubahan. "BBM non subsidi seperti Pertamax series merupakan produk yang harga jualnya disesuaikan dengan perkembangan kondisi pasar dan faktor-faktor ekonomi yang memengaruhi biaya pengadaan energi", ujar Roberth dalam siaran persnya, Kamis (18/6/2026).
Lebih lanjut, Roberth menjelaskan bahwa secara normal evaluasi harga BBM non subsidi dilakukan secara berkala.
"Pada prinsipnya, harga BBM non-subsidi dilakukan evaluasi secara berkala setiap bulan sesuai perkembangan parameter keekonomian. Namun demikian, implementasinya tetap memperhatikan kebijakan yang ditetapkan pemerintah," tambahnya.
Di tengah kondisi dan dinamika global di mana harga minyak dunia beranjak naik dampak kondisi geopolitik, Pemerintah senantiasa menjaga harga BBM non subsidi jenis Pertamax series selalu stabil dengan tidak mengalami kenaikan.
Penyesuaian harga yang dilakukan pada bulan Juni untuk BBM jenis Pertamax mempertimbangkan fluktuasi harga pasar internasional, dengan tetap memperhatikan kondisi ekonomi masyarakat di dalam negeri.
"Penyesuaian harga Pertamax yang dilakukan saat ini adalah 50% dari selisih harga pasar, dan jika dibandingkan dengan harga BBM sejenis di negara-negara tetangga Asean tetap lebih kompetitif agar menjaga daya beli dan perekonomian," kata Robert
(ven/arj) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]