Internasional

Hubungan AS-Israel Memanas, Wapres Ancam Netanyahu

tfa, CNBC Indonesia
Jumat, 19/06/2026 10:06 WIB
Foto: Wapres AS JD Vance, R-Ohio, melakukan walkthrough di atas panggung pada hari kedua Konvensi Nasional Partai Republik 2024 di Fiserv Forum, Selasa, 16 Juli 2024, di Milwaukee. (AP/Carolyn Kaster)

Jakarta, CNBC Indonesia - Hubungan Amerika Serikat (AS) dan Israel kembali memanas. Wakil Presiden AS JD Vance secara terbuka memperingatkan para pejabat Israel yang mengkritik kesepakatan terbaru antara Washington dan Iran, bahkan menegaskan bahwa Presiden Donald Trump merupakan satu-satunya sekutu kuat yang masih dimiliki Israel.

Pernyataan keras itu disampaikan Vance di Gedung Putih saat merespons laporan yang menyebut Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu tidak puas dengan kesepakatan yang dicapai AS dan Iran. Vance mengaku belum mendengar langsung keberatan Netanyahu, namun menyindir sejumlah anggota kabinet Israel yang menyerang kesepakatan tersebut sekaligus melontarkan kritik pribadi kepada Trump.

"Donald J. Trump adalah satu-satunya kepala negara di seluruh dunia yang bersimpati kepada negara Israel saat ini. Jika saya berada di kabinet pemerintahan Israel, saya mungkin tidak akan menyerang satu-satunya sekutu kuat yang tersisa di seluruh dunia," kata Vance kepada wartawan, seperti dikutip Reuters, Jumat (19/6/2026).


Ia juga mengingatkan bahwa sebagian besar sistem pertahanan yang melindungi Israel berasal dari Amerika Serikat. Menurut Vance, sekitar dua pertiga senjata pertahanan Israel dibuat dan didanai oleh AS. Washington sendiri diketahui memberikan bantuan militer sekitar US$4 miliar per tahun kepada Israel, setara sekitar Rp71,33 triliun (kurs Rp17.833/US$).

Pernyataan tersebut mencerminkan meningkatnya ketegangan antara dua sekutu lama itu, hampir empat bulan setelah AS dan Israel bersama-sama melancarkan serangan terhadap Iran. Konflik tersebut sempat mengguncang pasar energi global setelah Teheran merespons dengan menutup jalur strategis Selat Hormuz.

Sejumlah pejabat Israel, termasuk beberapa sekutu Netanyahu, menolak kesepakatan AS-Iran karena dinilai tidak cukup mengatasi kekhawatiran terkait program nuklir dan rudal balistik Teheran. Mereka juga menilai kesepakatan itu berpotensi membatasi operasi militer Israel terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon.

Trump sebelumnya berupaya meredakan kekhawatiran tersebut dalam pidatonya di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 di Prancis. Ia menyarankan Israel mengambil pendekatan yang lebih lunak terhadap Hizbullah, yang menjadi salah satu teguran publik terbaru Washington kepada pemerintah Netanyahu.

Vance menegaskan kesepakatan dengan Iran justru mendapat dukungan negara-negara Teluk karena dianggap berpotensi mengubah stabilitas kawasan ke arah yang lebih baik. Menurutnya, manfaat kesepakatan itu tidak hanya dirasakan AS, tetapi juga negara-negara Timur Tengah secara luas.

Dalam wawancara terpisah dengan New York Times, Vance bahkan menyebut reaksi Israel terhadap kesepakatan tersebut sebagai bentuk "kepanikan" dan "kegelisahan" yang berlebihan. Ia menilai kekhawatiran itu muncul dari kurangnya kepercayaan terhadap upaya diplomasi yang sedang dijalankan Washington.

Secara khusus, Vance menyindir Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich yang menjadi penentang keras kesepakatan tersebut.

"Anda adalah negara dengan 9 juta penduduk. Anda tidak bisa hanya membunuh untuk menyelesaikan setiap masalah keamanan nasional yang Anda miliki," ujarnya.


(tfa/sef) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Israel Keras Kepala, Ogah Tarik Militer dari Lebanon