Internasional

Menteri Israel Ngamuk AS-Iran Rujuk, Minta Netanyahu Serang Lebanon

tps, CNBC Indonesia
Selasa, 16/06/2026 06:30 WIB
Foto: (REUTERS/Kim Kyung-Hoon)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keamanan Nasional Israel yang berhaluan kanan ekstrem, Itamar Ben Gvir, secara tegas mengecam kesepakatan damai teranyar antara Amerika Serikat dan Iran pada Senin, (15/06/2026). Ben Gvir bersikeras menyatakan bahwa negaranya sama sekali tidak terikat oleh perjanjian tersebut karena tidak menjamin keselamatan warga Israel.

Melalui saluran Telegram pribadinya, Ben Gvir menegaskan bahwa Israel bukan merupakan bagian dari kesepakatan sepihak yang digagas oleh Gedung Putih. Respons keras ini menjadi reaksi resmi pertama yang keluar dari jajaran pejabat tinggi pemerintahan Tel Aviv pasca-pengumuman gencatan senjata bersejarah di Timur Tengah tersebut.

"Kesepakatan Trump tidak mengikat kami... kami bukan pihak dalam perjanjian ini. Perjanjian tersebut tidak melindungi keamanan kami," tegas Ben Gvir dalam pernyataan tertulisnya yang menolak melunak terhadap Teheran.


Ben Gvir juga mendesak agar militer Israel tidak menghentikan pertempuran sebelum kelompok Hezbollah di Lebanon benar-benar dibongkar sepenuhnya. Dirinya menuntut agar pasukan Israel tidak mundur satu inci pun dari wilayah yang telah berhasil direbut dan dibersihkan dari infrastruktur terorisme.

"Kita tidak boleh puas dengan apa pun selain pembubaran Hizbullah. Kita tidak boleh mundur dari sejengkal pun wilayah yang telah direbut dan dibersihkan dari infrastruktur teroris oleh tentara kita," katanya.

Kecaman keras dari internal Israel ini muncul tepat setelah Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengumumkan pada Minggu malam bahwa kesepakatan damai antara AS dan Iran telah resmi tercapai. Sharif menjelaskan bahwa nota kesepahaman (MOU) tersebut mencakup penghentian segera operasi militer di semua lini pertempuran, termasuk wilayah Lebanon.

"Mengikuti pembicaraan intensif, kami dengan senang hati mengumumkan bahwa Kesepakatan Damai antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran telah DICAPAI," tulis Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif melalui akun media sosial miliknya.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga telah mengonfirmasi tercapainya kesepakatan kompromi tersebut dan langsung memerintahkan penarikan blokade angkatan laut di perairan Teluk. Trump mengumumkan bahwa Selat Hormuz kini telah dibuka kembali tanpa pungutan biaya bagi seluruh lalu lintas kapal dagang internasional demi memulihkan pasokan minyak bumi dunia.

Upacara seremonial penandatanganan dokumen perdamaian resmi dijadwalkan akan digelar di Swiss pada tanggal 19 Juni mendatang. Setelah penandatanganan tersebut, kedua belah pihak akan langsung memulai jendela negosiasi teknis selama 60 hari yang berfokus pada pembatasan program nuklir Iran serta mekanisme pencairan miliaran dolar aset Teheran yang dibekukan.


(tps/tps) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Israel Masih Siaga Penuh Akan Dibombardir Iran