Para demonstran melakukan unjuk rasa memperingati Hari Demokrasi di Abuja, Nigeria, Jumat (12/6/2026). Aksi tersebut menuntut tindakan pemerintah terhadap penculikan yang meluas dan menyerukan pengunduran diri Presiden Tinubu. (REUTERS/Marvellous Durowaiye)
"Kami lelah hidup seperti budak di negara kami sendiri. Itulah mengapa kami turun ke jalan untuk berdemonstrasi dan menunjukkan kepada dunia bahwa Nigeria sedang berdarah," kata demonstran Valentine Mmaduabuchi. (REUTERS/Marvellous Durowaiye)
Kerumunan massa meneriakkan (Presiden Nigeria) "Tinubu harus pergi" seiring meningkatnya frustrasi atas penanganan pemerintah terhadap masalah keamanan. (REUTERS/Marvellous Durowaiye)
Aktivis Omoyele Sowore mengatakan Hari Demokrasi didedikasikan untuk para korban penculikan dan terorisme. "Karena mereka tidak dapat melakukan pekerjaan mereka, sudah saatnya mereka pergi, dan warga Nigeria lelah menjadi korban di sekolah, rumah, dan ladang mereka," katanya. (REUTERS/Marvellous Durowaiye)
Ketidakamanan telah melanda Nigeria dari wilayah utara hingga barat, dengan penculikan dan perampokan semakin marak terjadi. (REUTERS/Marvellous Durowaiye)
Parlemen juga telah mengesahkan rancangan undang-undang konstitusional yang membuka jalan bagi masing-masing dari 36 negara bagian di negara itu untuk membentuk pasukan polisi mereka sendiri di samping Kepolisian Federal Nigeria, sebuah reformasi yang bertujuan untuk meningkatkan waktu respons dan pengumpulan intelijen lokal karena para gubernur berupaya untuk memiliki kendali yang lebih besar atas keamanan di negara bagian mereka. (REUTERS/Marvellous Durowaiye)