MARKET DATA
Internasional

Biaya Hidup Tinggi di Eropa, Warga Terancam Gembel-Pekerja Asing Bye!

tps,  CNBC Indonesia
11 June 2026 19:10
Warga Inggris tidur dijalan berkumpul untuk menghadiri pemakaman Ratu Elizabeth II di Whitehall di London, Inggris. (Getty Images/Alex McBride)
Foto: Ilustrasi (Getty Images/Alex McBride)

Jakarta, CNBC Indonesia - Lonjakan biaya hidup yang terus meroket di seluruh kawasan Eropa dilaporkan telah memukul mundur pemenuhan hak-hak dasar warga. Tingginya harga properti serta tarif sewa tempat tinggal kini memaksa semakin banyak masyarakat kehilangan rumah hingga memicu lonjakan angka tunawisma yang sangat mengkhawatirkan.

Mengutip AFP, Badan Hak-Hak Fundamental Uni Eropa (FRA) yang berbasis di Wina, Austria, mengungkapkan bahwa harga rumah di Uni Eropa secara keseluruhan telah melonjak tajam hingga 53% dalam kurun waktu satu dekade terakhir. Pada periode yang sama, tarif sewa bulanan juga tercatat mengalami kenaikan konstan hingga hampir 17%. Kondisi ini membuat pemenuhan hak atas papan yang layak menjadi barang mewah yang kian sulit dijangkau.

"Meningkatnya biaya hidup berdampak pada banyak individu dan keluarga, karena semakin banyak orang yang tidak mampu membayar tempat tinggal mereka dan berisiko menjadi tunawisma," tegas Direktur FRA Sirpa Rautio dalam rilis laporan tahunan lembaga tersebut, Kamis (11/6/2026).

Rautio juga menambahkan bahwa kelompok usia muda serta komunitas rentan menjadi pihak yang paling terdampak oleh krisis ekonomi ini. Mereka menghadapi kesulitan yang luar biasa untuk sekadar mengakses hak dasar atas perumahan yang layak. Ironisnya, sebagian besar dari kelompok rentan ini juga dilaporkan sama sekali tidak memiliki perlindungan hukum yang kuat terhadap ancaman penggusuran sepihak.

Federasi Organisasi Nasional Eropa untuk Tunawisma (Feantsa) memperkirakan jumlah warga yang tidak memiliki tempat tinggal tetap di Uni Eropa telah membengkak hingga mendekati 1,3 juta orang pada tahun lalu. Angka ini menjadi indikasi kuat bahwa krisis sosial sedang berkembang menjadi bom waktu di tengah masyarakat Eropa.

Keamanan dan Kebencian Online

Di luar masalah ekonomi, FRA mencatat bahwa Uni Eropa kini semakin diuji dalam mempertahankan tata kelola berbasis aturan dan hak-hak fundamental. Ketidakstabilan geopolitik yang intens serta ancaman keamanan global yang dipicu oleh perang yang terus berkepanjangan di luar perbatasan luar negeri turut merembet masuk dan merusak tatanan sosial di dalam negeri.

"Lingkungan internasional yang tidak dapat diprediksi dan perang yang sedang berlangsung memberikan dampak langsung di sini, di rumah kita sendiri-terutama terhadap rasa aman dan kesejahteraan masyarakat," jelas Rautio menjabarkan efek domino konflik global bagi psikologis warga Eropa.

Kondisi stres sosial ini juga terindikasi dari masifnya penyebaran konten kebencian dan hoaks di dunia maya. Berdasarkan temuan FRA, lebih dari satu banding tiga orang di wilayah Uni Eropa mengaku pernah menemukan konten online yang mereka nilai sangat berbahaya bagi keharmonisan sosial.

Penegakan hukum digital untuk mengatur internet pun menghadapi tantangan besar. Termasuk dalam meminta pertanggungjawaban dari platform-platform teknologi raksasa.

Diskriminasi Pekerja Asing

Laporan komprehensif yang mencakup 27 negara anggota Uni Eropa ditambah Albania, Makedonia Utara, dan Serbia ini juga menyoroti masalah ketenagakerjaan yang serius. Para pekerja dari negara ketiga atau luar Uni Eropa dilaporkan terus mengalami diskriminasi sistematis serta eksploitasi tenaga kerja yang parah.

Banyak dari pelaut atau buruh migran tersebut yang harus bekerja di bawah level kualifikasi akademis asli mereka. Padahal di saat yang bersamaan, Uni Eropa justru sedang menghadapi krisis kelangkaan tenaga kerja dalam skala yang sangat besar di berbagai sektor industri penting.

Ironi ini dinilai terjadi karena regulasi pasar kerja lokal yang masih belum mampu mengintegrasikan potensi para pekerja asing secara adil dan logis.

(tps/sef) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Terseret Sanksi UE, Terminal Minyak Karimun Dipastikan Tetap Jalan!


Most Popular
Features