Ada Bisik-Bisik Harga Motor Listrik Mau Naik
Jakarta, CNBC Indonesia - Tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang sempat menembus Rp18.000/US$ mulai dirasakan industri sepeda motor listrik nasional. Ketergantungan terhadap komponen impor membuat biaya produksi meningkat.
Kondisi tersebut mendorong sejumlah agen pemegang merek (APM) mempertimbangkan kenaikan harga jual dalam waktu dekat. Langkah tersebut sulit dihindari jika pelemahan rupiah berlangsung lebih lama.
Pasalnya sebagian besar komponen motor listrik masih berasal dari luar negeri, terutama China. Karena itu, perubahan kurs langsung berdampak terhadap struktur biaya industri.
"Oh iya pastilah. Jadi sebagian besar komponen itu kan masih impor kita kan. Ya kalau nilai tukar Rupiahnya melemah pastinya berat sekarang," kata Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli) Budi Setiyadi kepada CNBC Indonesia, Kamis (11/6/2026).
Pembahasan mengenai kenaikan harga sudah mulai muncul di pelaku industri. Beberapa perusahaan bahkan disebut telah menyampaikan rencana tersebut. Budi mengungkapkan sejumlah APM telah menyampaikan sinyal akan melakukan penyesuaian harga apabila rupiah tidak segera menguat. Namun, Ia belum bisa merinci berapa besar kenaikannya.
Calon pembeli melihat motor listrik yang dijual di Showroom Bintaro EV, Tangerang Selatan, Rabu (20/8/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Calon pembeli melihat motor listrik yang dijual di Showroom Bintaro EV, Tangerang Selatan, Rabu (20/8/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) |
"Tadi ada juga beberapa obrolan saya dengan beberapa APM akan menaikkan harga dalam waktu dekat ini kalau Rupiah tidak begitu menguat," kata Budi.
Meski demikian, tidak semua produsen mengambil langkah yang sama. Ada perusahaan yang masih mempertahankan harga sambil melihat pergerakan nilai tukar. Keputusan masing-masing produsen akan bergantung pada kemampuan perusahaan beradaptasi dalam kenaikan biaya produksi yang terjadi akibat fluktuasi kurs.
"Tapi ada yang juga belum naik, ada tapi mungkin ada yang juga sudah menaikkan juga harganya. Tapi tadi pas kebetulan saya ketemu sama APM yang dalam waktu dekat akan dinaikkan harganya," kata Budi.
Ia menegaskan tekanan terbesar berasal dari komponen impor yang masih mendominasi rantai pasok industri motor listrik nasional.
"Sebagian komponen kita kan masih impor dari Cina, kalau Dolar naik kan pastinya berat kan kira-kira berat kan," pungkasnya.
(fys/wur) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]
