Dewan Energi RI Tiba-Tiba Ungkap RI Setop Impor Bensin di Tahun 2028
Bogor, CNBC Indonesia - Dewan Energi Nasional (DEN) membeberkan bahwa Indonesia akan menyetop ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dan avtur pada tahun 2026, sedangkan bensin pada tahun 2028. Tidak lain, hal itu untuk mencapai target kemandirian energi nasional dengan optimalisasi produksi kilang di dalam negeri dan bauran energi nabati.
Anggota DEN Satya Widya Yudha menyebutkan untuk bisa mencapai target bebas impor tersebut, Indonesia perlu mempersiapkan berbagai hal mulai dari aspek teknis hingga kesiapan kilang dalam negeri untuk menyerap seluruh produksi domestik yang tersedia.
"Kita ingin menuju ke kedaulatan energi ya kalau kita lihat kemandirian energi itu caranya salah satunya Pak yang bisa kita lakukan sekarang menghentikan impor solar 2026. Kita impor menghentikan impor daripada avtur akhir 2026. Bensin Ron 92, 95, 98, 2028," ujarnya dalam acara Sarasehan Energi DEN, di Kampus IPB Bogor, dikutip Kamis (11/6/2026).
Adapun, target penurunan porsi impor nasional akan didukung pula dengan program biofuel baik jenis biodiesel untuk campuran BBM solar, dan bioetanol untuk campuran BBM jenis bensin. Program campuran biofuel tersebut dinilai bisa menekan ketergantungan Indonesia terhadap sumber energi basis fosil.
"Ini berarti kilang dalam negeri harus mampu memproduksi sebagian besar daripada BBM kita. Maka kami berharap IPB memastikan biodiesel, bioetanol memiliki spesifikasi teknis kilang Pak. Jadi supaya itu kompatibel," tambahnya.
Melalui upaya yang akan digencarkan oleh pemerintah dalam mencapai target swasembada energi, Satya berharap Indonesia tidak lagi harus bergantung pada dinamika pasar energi global karena bisa mengandalkan sumber daya dalam negeri.
"Mudah-mudahan kedaulatan energi bisa kita capai dan kita sebagai negara yang berdaulat dan insyaallah tujuan kita untuk memaslahatkan masyarakat kita mewujudkan negara kesejahteraan menjadi cita-cita kita bersama," tandasnya.
Senada dengan itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia pernah menyebutkan target penghentian impor avtur dapat dilakukan pada tahun 2027 mendatang. Hal tersebut seiring dengan beroperasinya fasilitas terintegrasi Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan.
Bahlil mengungkapkan melalui RDMP Balikpapan pemerintah mendorong peningkatan produksi BBM beroktan tinggi, mulai dari RON 92, RON 95, hingga RON 98. Langkah ini diharapkan dapat menekan impor BBM.
"Termasuk avtur Bapak Presiden. Jadi avtur juga 2027 Insya Allah tidak lagi kita melakukan impor. Kedepan kita akan dorong atas perintah Bapak Presiden kita hanya mengimpor crude nya saja. Kalau ini mampu kita lakukan maka gerakan-gerakan tambahan ini semakin tipis," kata Bahlil dalam acara peresmian RDMP Balikpapan, dikutip Selasa (13/1/2026).
Selain itu, menurutnya beroperasinya proyek kilang Balikpapan juga berpotensi menghemat devisa kurang lebih Rp 60 triliun. Setidaknya, kilang ini akan memproduksi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis bensin sekitar 5,8 juta kiloliter (kl) per tahun.
"Konsumsi bensin sekarang 38 juta kl per tahun. produksi dalam negeri kita 14,25 juta dengan penambahan 5,8 juta maka impor bensin tinggal 19 juta kl," katanya.
Sementara itu untuk BBM jenis solar, penghentian impor rencananya akan dilakukan dalam waktu dekat. Ia menyebut, kebijakan mandatori biodiesel B40 hingga B50, ditambah peningkatan kapasitas kilang, akan menutup kebutuhan impor solar nasional.
"Impor kita tinggal 5 juta jadi tertutupi, bahkan surplus 1,4 juta. Itu untuk solar CN48. Sementara CN51 impor hanya 600 ribu kl. Nanti Semester kedua saya minta pertamina bangun supaya gak impor lagi," ujarnya.
(pgr/pgr) Add
source on Google