ESDM Siapkan Aturan Konversi Saklar Listrik MCB, Ini Penggantinya

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Kamis, 11/06/2026 10:40 WIB
Foto: Ilustrasi Listrik Perumahan (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah merumuskan peraturan menteri (Permen) baru mengenai standar pengamanan sistem kelistrikan nasional. Hal itu untuk menekan angka kebakaran akibat arus pendek atau korsleting dengan penggunaan teknologi pengamanan yang lebih responsif di bangunan publik maupun pemukiman warga.

Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menjelaskan bahwa pemerintah saat ini sedang melakukan proses harmonisasi regulasi guna memperkuat landasan hukum kebijakan tersebut. Dia menyebut upaya ini sangat penting untuk meminimalisasi dampak kerugian harta benda maupun jiwa akibat gangguan listrik yang marak terjadi di berbagai daerah.

"Jadi gini, kalau ini gawai proteksi arus sisa (GPAS), ini kan persoalannya itu adalah kan cukup banyak dampak-dampak terhadap korsleting yang menyebabkan kebakaran. Itu ada kantor pemerintah di beberapa daerah, itu ada pasar, ada rumah masyarakat. Ini kan kita juga membuat untuk arus sisa ini bagaimana pengamanan-nya," jelasnya saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, dikutip Rabu (10/6/2026).


Pemerintah berencana mendorong konversi perangkat pengaman dari Miniature Circuit Breaker (MCB) konvensional menjadi Residual Current Circuit Breaker with Overcurrent Protection (RCBO). Perangkat pengganti tersebut dinilai jauh lebih efektif karena memiliki sensitivitas tinggi dalam mendeteksi kebocoran arus listrik dibandingkan dengan saklar MCB biasa yang jamak digunakan masyarakat saat ini.

"Jadi nanti ada konversi, ini ada RCBO, RCBO ini akan mengganti MCB. Ya selisih harganya itu nanti ini juga tidak seberapa," katanya.

Kelak, penerapan standar baru tersebut akan diprioritaskan untuk area perkantoran serta pasar tradisional yang dinilai memiliki risiko tinggi terhadap musibah kebakaran. Penggunaan teknologi RCBO diproyeksikan mampu memutus aliran daya secara otomatis dan menyeluruh dalam waktu singkat saat terjadi anomali beban arus di dalam jaringan.

"Jadi untuk instalasi yang ada di perkantoran, di pasar, jadi itu justru pada saat ada korsleting itu akan mati secara keseluruhan, itu lebih sensitif. Jadi ini dalam rangka pengamanan. Untuk permennya itu juga sudah disiapkan lagi proses harmonisasi," pungkas Yuliot.


(pgr/pgr) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: KSP: Motor Listrik BGN Di-mark Up Mencapai Rp200 Miliar


Related Articles