Selisih Harga Tinggi, Waspada Migrasi Pengguna Pertamax ke Pertalite!
Jakarta, CNBC Indonesia - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai kenaikan harga Pertamax yang membuat selisih dengan Pertalite mencapai sekitar Rp6.250 per liter berpotensi mempercepat perpindahan konsumsi. Terutama dari BBM non subsidi ke BBM bersubsidi.
Menurut dia, secara ekonomi konsumen cenderung beralih ke produk yang lebih murah ketika perbedaan harga dua barang dengan fungsi yang relatif sama semakin lebar. Dengan asumsi konsumsi 100 liter per bulan, pengguna kendaraan dapat menghemat sekitar Rp625 ribu per bulan jika beralih dari Pertamax ke Pertalite.
"Karena itu, tidak mengherankan jika mulai terlihat antrean Pertalite yang lebih panjang dan permintaan Pertamax yang relatif melambat," ujar Yusuf kepada CNBC Indonesia, Kamis (11/6/2026).
Lebih lanjut, ia menilai, ke depan tren perpindahan ini kemungkinan masih akan berlanjut apabila selisih harga tetap lebar dalam beberapa bulan mendatang. Berdasarkan simulasi yang pihaknya lakukan, dalam skenario moderat konsumsi Pertalite dapat meningkat sekitar 7 persen, sementara pada skenario yang lebih berat kenaikannya bisa mendekati 12 persen.
"Namun perlu dicatat bahwa kuota Pertalite baru berpotensi terlampaui ketika tingkat migrasi konsumsi mendekati 11,3 persen. Artinya, dalam skenario ringan hingga moderat, konsumsi masih relatif dapat ditampung dalam kuota yang tersedia," tambahnya.
Risiko mulai meningkat apabila perpindahan konsumen berlangsung lebih agresif dari perkiraan. Selain itu, dampak penuh dari kenaikan selisih harga yang terjadi pada Juni kemungkinan baru akan terlihat pada data konsumsi semester kedua tahun ini.
Dari sisi fiskal, kenaikan konsumsi Pertalite tentu akan menambah beban kompensasi energi pemerintah karena setiap liter tambahan yang dikonsumsi harus ditopang oleh kompensasi yang lebih besar.
Dengan asumsi kompensasi sekitar Rp5.400 per liter, tambahan beban fiskal diperkirakan berada pada kisaran Rp4 triliun hingga Rp17 triliun, tergantung besarnya perpindahan konsumsi yang terjadi. Dalam skenario moderat, tambahan kompensasi dapat mendekati Rp10 triliun.
Meski demikian, ia memandang risiko utama saat ini bukan pada keberlanjutan fiskal pemerintah, melainkan pada pengelolaan konsumsi dan distribusi di lapangan. Tambahan beban tersebut masih berada dalam kapasitas APBN untuk diserap, meskipun ruang fiskal menjadi lebih sempit.
Yusuf menyebut yang perlu diantisipasi justru kemungkinan meningkatnya antrean dan tekanan pasokan di beberapa wilayah apabila migrasi konsumen berlangsung lebih cepat dari yang diperkirakan. Karena itu, pemantauan konsumsi dan pengawasan penyaluran menjadi penting agar kuota yang tersedia tetap cukup hingga akhir tahun.
"Jadi, kebijakan ini memang berpotensi mendorong perpindahan konsumsi ke Pertalite lebih cepat. Dampaknya terhadap kompensasi energi akan meningkat, tetapi masih relatif dapat dikelola dalam kondisi saat ini. Faktor yang perlu terus dicermati adalah besarnya migrasi konsumen pada semester kedua, perkembangan harga minyak dunia, dan pergerakan nilai tukar rupiah karena ketiga faktor tersebut akan sangat menentukan besarnya tekanan terhadap APBN ke depan," katanya.
Sebelumnya, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun mengimbau masyarakat untuk bijak dalam menggunakan energi dan tidak mengambil hak kelompok yang berhak menerima subsidi. Hal tersebut merespons kekhawatiran adanya perpindahan konsumen ke BBM bersubsidi seperti Pertalite.
"Himbauan bijak menggunakan energi dan kesadaran untuk tidak mengambil hak penerima subsidi ini terus digaungkan," ujarnya kepada CNBC Indonesia, dikutip Kamis (11/6/2026).
Roberth mengatakan penyesuaian harga BBM non subsidi jenis Pertamax dilakukan dengan tetap memperhatikan daya beli dan roda perekonomian nasional. Di sisi lain, harga BBM bersubsidi tidak mengalami penyesuaian dan tetap dijual sesuai ketentuan yang berlaku.
Menurutnya, faktor harga pasar dan harga keekonomian menjadi salah satu alasan dilakukannya penyesuaian harga. Setelah dilakukan koordinasi dengan regulator, penyesuaian harga Pertamax akhirnya dilakukan.
"Lebih kepada proses bisnis hulu ke hilir penyediaan energi yang sesuai kordinasi dengan regulator perlu dinamis dan beradaptasi atas kondisi terkini menanggapi fenomena saat ini," tambahnya.
Berikut Daftar Harga BBM Non Subsidi Pertamina per 10 Juni 2026
Pertamax Series:
- Pertamax (RON 92): naik dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter.
- Pertamax Green 95 (RON 95): naik dari Rp12.900 per liter menjadi Rp17.000 per liter.
- Pertamax Turbo (RON 98): tetap Rp20.750 per liter.
Dex Series:
- Dexlite (CN 51): tetap Rp23.000 per liter.
- Pertamina Dex (CN 53): tetap Rp24.800 per liter.
(pgr/pgr) Add
source on Google