Eks CIA Bongkar Dugaan Trump-Netanyahu Sengaja Rusak Negosiasi Iran
Jakarta, CNBC Indonesia - Serangan terbaru Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap target di Iran serta Lebanon disebut berpotensi mengganggu upaya diplomasi yang sedang berlangsung di kawasan Timur Tengah. Tuduhan itu disampaikan mantan analis Badan Intelijen Pusat AS (CIA), Larry Johnson, yang menilai aksi militer tersebut justru dapat memicu gelombang eskalasi baru di tengah proses perundingan damai.
Pernyataan Johnson muncul setelah militer AS melancarkan serangan terhadap Pulau Qeshm dan sejumlah target di wilayah selatan Iran pada Rabu waktu setempat. Washington menyatakan operasi tersebut dilakukan sebagai respons atas jatuhnya helikopter serang AH-64 Apache milik AS di lepas pantai Oman.
Presiden AS Donald Trump menuding Iran berada di balik insiden jatuhnya helikopter tersebut. Namun hingga kini, Teheran belum mengonfirmasi maupun mengakui keterlibatan dalam insiden tersebut.
Johnson mempertanyakan alasan yang digunakan pemerintahan Trump untuk melakukan serangan tersebut, terutama karena kedua pilot helikopter dilaporkan selamat.
"Ini tidak masuk akal," kata Johnson dalam wawancara dengan RT, dikutip Rabu (10/6/2026).
Menurutnya, jika para pilot masih hidup, sulit menjelaskan mengapa Washington memilih melakukan serangan militer ketika proses diplomasi masih berlangsung.
"Jika mereka masih hidup, mengapa Donald Trump meluncurkan serangan ke Iran ketika mereka seharusnya sedang berada di tengah pembicaraan damai? Satu-satunya alasan yang bisa saya pikirkan adalah bahwa ia melakukannya dengan sengaja untuk menyabotase perundingan tersebut," ujarnya.
Johnson juga menuding bahwa Trump menghadapi tekanan dari kelompok-kelompok yang mendukung Israel di AS.
Menurutnya, sejumlah tokoh politik pro-Israel, termasuk Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee, memiliki pandangan yang keras terhadap Iran dan tidak menginginkan tercapainya kesepakatan antara Washington dan Teheran.
"Kelompok Zionis sangat menekan," kata Johnson. "Mereka bersikeras menghancurkan Iran. Mereka tidak menginginkan kesepakatan dengan Iran," lanjutnya.
Meski demikian, tuduhan tersebut merupakan pandangan pribadi Johnson dan tidak disertai bukti yang dipublikasikan dalam wawancara tersebut.
Selain mengkritik langkah Washington, Johnson juga menyoroti serangan udara Israel ke Beirut pada Minggu lalu.
Menurut dia, operasi militer Israel tersebut memiliki tujuan yang sama, yakni memicu ketegangan lebih luas yang dapat menggagalkan proses diplomasi yang sedang berjalan.
Johnson menilai perkembangan perundingan damai sebelumnya menunjukkan kemajuan yang cukup signifikan, sesuatu yang menurutnya tidak diinginkan oleh kelompok neokonservatif di AS maupun pemerintah Israel.
"Terlalu banyak kemajuan yang dicapai selama perundingan damai bagi kelompok neokonservatif dan bagi Israel, sehingga mereka melakukan segala cara yang mereka bisa untuk menyabotasenya," katanya.
Ia memperkirakan situasi tersebut dapat memicu babak baru ketegangan di kawasan dalam waktu dekat.
"Saya pikir ini akan mengarah pada putaran eskalasi baru yang bisa berlangsung selama satu atau dua minggu," ujar Johnson.
(luc/luc) Add
source on Google