Amran Ungkap 3.619 Ton Beras Bulog Turun Mutu & Rusak, Ini Rinciannya

Martyasari Rizky, CNBC Indonesia
Rabu, 10/06/2026 20:00 WIB
Foto: Inspeksi Mendadak Menteri Pertanian dan Direktur Utama Perum Bulog dalam rangka pengecekan stok beras di JDP karawang 1 Logistic Park, Karawang, Jawa Barat, Kamis (23/4/2026). (CNBC Indonesia/Martya Rizky)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Amran Sulaiman, membeberkan kondisi stok beras yang mengalami penurunan mutu hingga rusak di gudang Perum Bulog. Penjelasan itu disampaikan Amran saat menjawab pertanyaan Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi atau yang akrab disapa Titiek Soeharto, mengenai beras rusak di gudang Bulog.

Di hadapan anggota dewan, Amran mengaku telah meminta Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, untuk membuka data secara transparan terkait kondisi stok beras yang tersimpan di gudang.

"Jadi kami sudah panggil Dirutnya (Bulog) kemarin, dan tadi pagi (Dirut Bulog) baru tiba dari China. Saya katakan ke Pak Dirut, 'Ini jangan Bapak yang berbuat, masalahnya ke saya.' (Kata Pak Dirut) 'Oh siap Pak Menteri'," ujar Amran dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI di kompleks parlemen, Jakarta, Rabu (10/6/2026).


Ia menuturkan, dirinya secara khusus telah meminta rincian jumlah beras yang mengalami kerusakan maupun penurunan mutu agar tidak menimbulkan spekulasi di masyarakat.

"Saya minta rincikan data berapa banyak beras (di gudang Bulog) yang rusak, 'you harus terbuka' (kata Amran ke Dirut Bulog)," tuturnya.

Berdasarkan data yang diterimanya, jumlah beras yang benar-benar rusak tercatat mencapai 3.619 ton. Angka tersebut berasal dari stok yang terdampak bencana force majeure seperti banjir dan longsor, termasuk yang terjadi di Aceh.

Perum Bulog mengundang mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Indonesia untuk meninjau langsung kondisi gudang beras di Kelapa Gading, Jakarta Utara, Rabu (6/5/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky) Foto: Perum Bulog mengundang mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Indonesia untuk meninjau langsung kondisi gudang beras di Kelapa Gading, Jakarta Utara, Rabu (6/5/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

"Beras yang rusak, 3.619 ton. Itu 0,00 sekian persen. Nah kemudian yang ini perlu perhatian khusus, ini ada dua kemungkinan. Ini masih bisa diolah, beras yang bisa diperbaiki 93.488 (ton). Ini masih bisa diperbaiki sebagian besar," jelas dia.

Ia menjelaskan, sebagian besar beras yang mengalami penurunan mutu masih dapat diproses kembali, sehingga kualitasnya kembali layak untuk didistribusikan. Dari total stok beras nasional Bulog yang mencapai 5.305.594 ton, jumlah beras yang turun mutu tercatat sebanyak 93.488 ton atau sekitar 1,76%.

Data Bulog mengklasifikasikan beras turun mutu ke dalam tiga kategori. Pertama, kategori A sebanyak 93.488 ton, yakni beras yang kualitasnya menurun tetapi masih bisa direproses dan dikembalikan mutunya untuk disalurkan kembali.

Kedua, kategori B yang merupakan beras turun mutu dan harus dilepas atau dimusnahkan, dengan jumlah nihil. Ketiga, kategori C sebanyak 3.619 ton, yakni beras rusak akibat bencana alam atau force majeure.

Amran menegaskan, beras yang sudah tidak bisa diperbaiki pun masih memiliki nilai ekonomi karena dapat diolah menjadi produk lain.

"Tapi kalau tidak, mungkin 10%, katakanlah 9.000 itu menjadi tepung. Dan harganya masih bagus," tukas dia.

Di sisi lain, Amran juga mengakui masih ditemukan sejumlah kasus kualitas beras yang kurang baik di lapangan. Namun, menurutnya, jumlahnya relatif kecil dan langsung ditindaklanjuti.

"Jujur, saya harus terbuka juga, ada kami temukan seperti yang Ibu (Ketua Komisi VI DPR RI, Titiek Soeharto) katakan tadi di daerah, kami kunjungan, langsung kami Bulognya telepon, (minta) ganti hari itu juga, karena berasnya kurang bagus, tapi itu jumlahnya kecil," ungkap Amran.

Karena itu, Amran meminta Bulog meningkatkan kewaspadaan dalam pengelolaan stok beras yang kini berada pada level tinggi. Ia menilai tantangan saat ini berbeda dibanding beberapa tahun lalu ketika stok beras justru terbatas.

"Tapi kami minta Bulog waspada dari sekarang. Kita sudah setengah mati kerja. Ini alhamdulillah ada yang rusak karena berasnya ada, kalau dulu tidak rusak Bu, karena berasnya yang kurang. Jadi beras impor masuk semua. Ini beras kita semua," tegasnya.

Sebagai langkah mitigasi, beras kategori A direncanakan direproses dan dimanfaatkan untuk program bantuan pangan melalui skema pencampuran satu bagian beras hasil reproses dengan empat bagian beras baru hasil panen 2026. Sementara beras kategori C akan dihilirisasi menjadi tepung beras sehingga tidak menimbulkan kerugian negara.

Adapun untuk memperkuat kualitas penyimpanan, pemerintah saat ini tengah membangun 100 titik gudang baru Bulog dengan nilai investasi sekitar Rp5 triliun. Gudang modern tersebut dirancang agar mampu menjaga kualitas beras dalam jangka waktu yang lebih panjang.

"Memang ada pembangunan gudang Bu. Ini ada bangun gudang 100 titik, nilainya Rp5 triliun sudah disetujui, sedang dibangun. Dan ini gudangnya bisa bertahan 2 tahun, minimal. Bisa 3 tahun berasnya. Kalau China, itu bisa cukup lebih lama lagi. Jadi penyimpanannya jauh lebih bagus daripada sekarang. Ini cukup modern Bu," pungkas Amran.


(wur) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Menteri Amran: RI Aman Saat El Nino, Stok Beras Cukup 15 Bulan