MARKET DATA

Pengusaha Konveksi Tahan-tahan PHK, Tapi Kondisinya Sudah Megap-Megap

Ferry Sandi,  CNBC Indonesia
11 June 2026 09:45
Pekerja melipat bendera di usaha konveksi rumahan yang memproduksi bendera umbul-umbul merah putih, topi, hingga kaos di kawasan Tangerang Selatan, Banten, Senin (11/8/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Pekerja melipat bendera di usaha konveksi rumahan yang memproduksi bendera umbul-umbul merah putih, topi, hingga kaos di kawasan Tangerang Selatan, Banten, Senin (11/8/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Lemahnya daya beli ditambah pelemahan rupiah menambah tekanan bagi industri kecil dan menengah (IKM) di dalam negeri. Kalangan pengusaha mengklaim memang saat ini belum melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK), namun ruang bertahan mereka semakin sempit apalagi harga bahan baku naik.

"Hingga saat ini IKM belum melakukan PHK. Kami masih bertahan," kata Ketua Umum Ikatan Pengusaha Konveksi Berkarya (IPKB), Nandi Herdiaman kepada CNBC Indonesia, Kamis (11/6/2026).

Tekanan mulai terasa sejak gejolak geopolitik di Timur Tengah memicu kenaikan berbagai komoditas bahan baku. Situasi tersebut diperparah oleh penguatan dolar AS hingga sempat di atas Rp 18.000/US$ yang membuat biaya produksi semakin membengkak.

"Sejak konflik Iran-Amerika, harga bahan baku sudah naik sampai 20%. Kondisi makin berat karena dolar sekarang menembus Rp18.000," ujarnya.

Ilustrasi Konveksi. (CNBC Indonesia/Muhamad Sabki)Ilustrasi Konveksi. (CNBC Indonesia/Muhamad Sabki) Foto: Ilustrasi Konveksi. (CNBC Indonesia/Muhamad Sabki)

Di tengah kenaikan biaya produksi, pelaku usaha kecil berharap pemerintah tidak hanya fokus pada stabilitas makroekonomi, tetapi juga memastikan aktivitas ekonomi sektor riil tetap berjalan. Apalagi tantangan yang dihadapi pelaku usaha lokal bukan hanya persoalan kurs dan biaya produksi. Persaingan dengan produk impor murah juga menjadi ancaman yang terus menggerus daya saing usaha dalam negeri.

"Sudah saatnya pemerintah melakukan revitalisasi UMKM dan IKM secara serius. Kalau UMKM terus dihadapkan pada banjir barang impor murah, kami tidak akan kuat. Lama-lama bisa terjadi penutupan usaha," tegasnya.

Namun, ketahanan tersebut memiliki batas. Apabila kondisi usaha terus memburuk tanpa adanya langkah nyata dari pemerintah, dampaknya berpotensi meluas ke sektor ketenagakerjaan.

"Tapi kalau pemerintah terlambat merespons dan tidak turun melihat kondisi lapangan, saya khawatir pengangguran akan makin bertambah," katanya.

Nandi menegaskan ada tiga langkah konkret yang dinilai mendesak untuk dilakukan pemerintah agar industri kecil dan menengah tetap bertahan di tengah tekanan ekonomi saat ini.

"Kuncinya pemerintah harus mau mendengar pelaku usaha kecil di bawah. Kami minta tiga hal nyata, pertama jaga pasar domestik agar produk lokal punya ruang tumbuh. Kedua, penegakan hukum dan pengawasan ketat di Bea Cukai supaya barang impor ilegal tidak membanjiri pasar. Ketiga, platform e-commerce harus berpihak ke produk lokal dan tegas melarang barang impor ilegal masuk lewat penjualan online," pungkasnya.

(fys/wur) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Rupiah Tertekan-PHK Mengintai, Pengusaha Tetap Yakin Ekonomi RI Kuat


Most Popular
Features