MARKET DATA

Tekanan Bertubi-tubi ke Kantong Warga: BBM, Pangan, Kini Suku Bunga

chd,  CNBC Indonesia
10 June 2026 15:50
Potret Pekerja Jakarta Usai Putusan Kenaikan UMP 2024. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Potret Pekerja Jakarta Usai Putusan Kenaikan UMP 2024. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Beberapa ekonom mengungkapkan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) menjadi 5,5% dapat membuat bunga kredit berpotensi terkerek naik dan dampaknya membuat daya beli masyarakat makin turun.

Hal ini karena bunga kredit berhubungan dengan kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit usaha rakyat (KUR), di mana jika bunga kredit makin meninggi, maka masyarakat makin menahan untuk mengambil KPR dan KUR.

Kepala Center of Macroeconomics and Finance Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M. Rizal Taufikurahman mengungkapkan kenaikan suku bunga acuan BI atau BI Rate tentunya dapat mempengaruhi bunga kredit perbankan, meski dampaknya tidak langsung.

"Kenaikan BI Rate hampir pasti akan memengaruhi bunga kredit, meski transmisinya tidak selalu langsung. Bank biasanya menyesuaikan bunga secara bertahap, terutama ketika biaya dana naik dan likuiditas mengetat," kata Rizal kepada CNBC Indonesia, Rabu (10/6/2026).

Rizal melanjutkan, dampak yang dirasakan masyarakat pun makin berat, terutama bagi sebagian debitur yang memiliki KPR, kredit modal kerja, dan kredit kendaraan.

"Namun untuk KUR, dampaknya bisa lebih tertahan karena ada skema subsidi bunga. Tetapi bagi UMKM, tetap bisa tertekan dari sisi biaya bahan baku, pelemahan rupiah, dan perlambatan permintaan," lanjut Rizal.

Khusus kredit kendaraan, Ia menyoroti makin tingginya bunga kredit berpotensi melambatkan konsumsi, terutama pembelian kendaraan.

"Ketika cicilan naik, bank lebih selektif, dan daya beli melemah, maka masyarakat cenderung menunda pembelian barang tahan lama," terangnya.

Rizal menambahkan saat ini daya beli masyarakat mulai menurun efek dari kenaikan harga energi (BBM), harga pangan, harga plastik, dan pelemahan rupiah. Dengan naiknya bunga kredit, maka daya beli makin menurun.

"Jadi, tekanan tidak hanya datang dari suku bunga, tetapi juga dari kombinasi harga energi, pangan, plastik, dan kurs," jelasnya.

Bahkan, ada potensi perlambatan ekonomi jika pemerintah tidak mengantisipasi. Rizal pun mengungkapkan perekonomian Indonesia berpotensi hanya tumbuh 4,8% hingga 5,0% jika tekanan masih terus berlangsung.

"Kalau tren ini berlanjut, konsumsi rumah tangga bisa melambat dan berdampak ke pertumbuhan ekonomi. Kami melihat ekonomi tahun ini berisiko turun ke kisaran 4,8-5,0%, terutama bila tekanan rupiah, inflasi biaya, dan suku bunga tinggi berlangsung lebih lama," imbuhnya.

Sementara itu, Chief Economist BTN, Myrdal Gunarto juga mengungkapkan naiknya BI Rate membuat bunga kredit semakin tidak menarik dan berdampak tidak langsung kepada masyarakat yang mengambil kredit.

"Terkait dengan kenaikan suku bunga acuan, ada dampaknya, tapi tidak langsung. Memang kalau kita lihat sih untuk bunga kredit yang masih disubsidi oleh pemerintah, termasuk KPR bersubsidi, itu kan jumlahnya banyak juga tuh, bunganya masih tetap, termasuk juga KUR itu juga masih tetap. Tapi yang non-subsidi, memang kalau skemanya floating rate pasti akan menyesuaikan dengan perkembangan yang ada di pasar," kata Myrdal.

Menurutnya, ada potensi daya beli masyarakat makin tergerus, mengingat saat ini masyarakat cenderung menahan belanjanya karena kenaikan harga beberapa barang-barang seperti BBM, pelemahan rupiah, kenaikan harga pangan, dan lain-lainnya.

Namun, kenaikan bunga kredit justru menjadi sinyal positif bagi masyarakat yang mata pencahariannya berbasis komoditas.

"Masyarakat yang mengandalkan income-nya dari sektor-sektor ekonomi yang bertumbuh pada aktivitas domestik pasti terkena dampak. Tapi kalau untuk masyarakat di daerah berbasis produksi komoditas, ada dampak positif dari kondisi saat ini. Karena pendapatan mereka meningkat, dan itu yang kalau kita cermati bisa menjadi suatu peluang untuk sektor bisnis itu untuk masuk di daerah tersebut," terang Myrdal.

Meski begitu, Ia memprediksi ekonomi Indonesia masih tumbuh baik pada 2026, di tengah tekanan yang cukup besar.

"Kalau pertumbuhan ekonomi sih kami lihat potensinya masih tumbuh. Untuk periode saat ini 5,2% sih masih bisa lah. Meski dari sisi konsumsi memang ada penurunan, tapi itu mendorong pertumbuhan ekonomi yang tadinya potensinya bisa tumbuh di atas 5,5%, tapi ya kita lihat sekarang kondisinya bisa hanya tumbuh 5,2%," jelasnya.

Ia juga menjelaskan, kondisi ekspor Indonesia masih cukup solid dan investasi asing ke dalam pasar keuangan Indonesia masih ramai, membuat pihaknya masih optimis ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5%.

"Ekspor kita juga masih solid. Investasi asing juga ada terus yang masuk ya, walaupun kondisinya cukup dinamis seperti sekarang, kita lihat investor-investor asing juga banyak yang masuk. Pemerintah juga banyak melakukan berbagai kunjungan ke negara untuk mendorong investasi masuk ke sini, ya kita tunggu realisasinya saja," ujarnya.

(chd/haa) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article BI Beberkan 7 Manuver Jaga Rupiah & Tarik Dana Asing Masuk Pasar RI


Most Popular
Features