Kerusuhan Pecah, Warga Marah Tersulut Insiden Berdarah Penggal Kepala
Jakarta, CNBC Indonesia - Kerusuhan pecah, di mana pengunjuk rasa membakar gedung-gedung dan kendaraan di Belfast, Irlandia Utara, Inggris Raya, Selasa malam waktu setempat. Tak hanya itu mereka juga melakukan memblokiran jalan-jalan, sehari setelah penikaman yang diduga dilakukan oleh seorang pengungsi asal Sudan.
Mengutip AFP, Rabu (10/6/2026), ratusan pengunjuk rasa itu menggunakan topeng dan berkumpul di beberapa lokasi di Belfast. Mereka mulai membakar properti publik jam 19.30 membuat warga di sejumlah lokasi harus dievakuasi.
"Pada pukul 19.30 mereka mulai membakar tempat sampah...kami mendengar suara mobil polisi dan sirene," kata seorang warga, Eemran.
"Semakin banyak orang mulai berdatangan, mereka mulai melemparkan bom bensin. Tiba-tiba api mulai berkobar...ada asap di dalam gedung...petugas pemadam kebakaran masuk dan mereka berkata 'turun'," katanya dalam bahasa Inggris yang terpatah-patah.
Camila, warga Chile berusia 36 tahun yang pindah ke Belfast sebulan lalu, mengatakan hal itu "menakutkan". Ia menegaskan tentu dirinya tak terbiasa dengan situasi mencekam tersebut.
"Pemenggalan Kepala"
Kerusuhan diawali dari peristiwa penikaman di Belfast. Seorang pria berusia 40 tahun mengalami luka di wajah, leher hingga punggungnya Senin.
Para saksi mata menggambarkan insiden berdarah tersebut sebagai dugaan percobaan "pemenggalan kepala". Ini memicu meluasnya kemarahan anti-imigran.
"Video dari Belfast menunjukkan seorang pria mengangkangi pria lain yang tergeletak di jalan dan menyayatnya beberapa kali di kepala dan leher dengan pisau, yang diklaim oleh tokoh sayap kanan sebagai percobaan pemenggalan," muat AFP.
"Beberapa orang kemudian terlihat turun tangan, salah satunya memegang tongkat pelempar, dan menangkap pelaku saat polisi tiba," tambahnya.
"Korban, seorang pria berusia 40-an, dibawa ke rumah sakit dengan luka parah di matanya dan luka sayatan serius di punggung dan wajahnya... Petugas menemukan apa yang diyakini sebagai pisau dapur di tempat kejadian."
Helikopter polisi berpatroli di atas kota dan toko-toko juga tutup lebih awal. Michelle O'Neill, Menteri Pertama Irlandia Utara, mengecam protes tersebut dan mendesak ketenangan.
"Sekelompok pria bertopeng yang membakar keluarga-keluarga di luar rumah mereka adalah tindakan pengecut yang menjijikkan," katanya di X.
"Rasisme, intimidasi dan kekerasan adalah salah di mana pun hal itu terjadi. Tidak ada alasan dan pembenaran atas serangan-serangan malam ini. Tidak seorang pun ingin melihat hal ini terjadi di jalan-jalan kita dan sekali lagi saya mohon ketenangan," tambahnya.
Ketegangan sudah tinggi di Inggris setelah bentrokan sengit pekan lalu di Southampton, Inggris selatan, terkait penanganan polisi atas pembunuhan seorang pelajar kulit putih muda yang ditikam hingga tewas oleh seorang pria Sikh Inggris. Pada hari Selasa, puluhan demonstran juga berkumpul di luar sebuah hotel yang menampung para pencari suaka, membawa spanduk bertuliskan "tidak ada rasisme, hanya patriotisme" dan "cukup sudah".
(tps/sef) Add
source on Google