Harga Minyak RI (ICP) Rata-Rata Januari-Mei 2026 Tembus US$ 91,8/Barel

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Selasa, 09/06/2026 12:10 WIB
Foto: Pompa minyak di luar Almetyevsk di Republik Tatarstan, Rusia. REUTERS/Alexander Manzyuk/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) tercatat mengalami tren kenaikan terhitung sejak awal tahun 2026. Per Mei 2026, ICP sudah mencapai level US$ 106,56 per barel, meningkat 65% dibanding ICP Januari 2026 di level US$ 64,41 per barel.

Mengacu data Kementerian ESDM, ICP Januari 2026 tercatat di level US$ 64,41 per barel. Meningkat pada Februari 2026 di level US$ 68,79 per barel. Kemudian kembali meningkat tajam pada Maret 2026 di level US$ 102,26 per barel. Puncak kenaikannya terjadi per April 2026 di level US$ 117,31 per barel dan kembali menurun per Mei 2026 di level US$ 106,56 per barel.

Jika dihitung secara rata-rata selama 5 bulan sejak awal tahun 2026, harga rata-rata ICP sudah menyentuh angka US$ 91,86 per barel.


Angka itu jelas sudah melampaui asumsi yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar US$ 70 per barel. Artinya, harga rata-rata ICP saat ini, terhitung sudah melebihi hingga 31,2% dari asumsi APBN 2026.

Sebagaimana diketahui, meningkatnya harga minyak mentah Indonesia itu salah satunya didasarkan atas masih memanasnya perang di Timur Tengah.

Dolar AS Menguat

Disamping harga ICP yang meningkat, Indonesia saat ini juga ditekan dengan menguatnya dolar Amerika Serikat (AS). Melansir data Refinitiv, rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (9/6/2026). Rupiah pada pukul 09.07 WIB berada di level Rp18.160/US$. Sepanjang awal perdagangan, rupiah sempat bergerak pada rentang Rp18.150-18.160/US$.

Bahkan, Rupiah sempat mencetak rekor terendahnya pada Senin (8/6/2026) di level Rp 18.208 per US$.

Tren peningkatan ICP dan terus melemahnya nilai tukar rupiah tentu berdampak ke berbagai aspek ekonomi termasuk meningkatnya besaran subsidi dan kompensasi yang harus dikocek APBN 2026.

Subsidi dan kompensasi per 30 April 2026

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan belanja subsidi dan kompensasi tersalurkan sebesar Rp153,1 triliun per 30 April 2026, setara 34,4% terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Adapun, dari data Kemenkeu, nilai realisasi itu terdiri atas belanja subsidi sebesar Rp74,9 triliun dan belanja kompensasi Rp78,2 triliun.

Besaran realisasi subsidi dan kompensasi ini dipengaruhi oleh fluktuasi ICP, depresiasi nilai tukar rupiah, serta pembayaran uang muka subsidi pupuk, peningkatan volume bahan bakar minyak (BBM), LPG, dan listrik.

Jika dirinci lebih lanjut, realisasi belanja subsidi dan kompensasi BBM mencapai 4.704 kilo liter atau tumbuh 8,2% dan LPG 3 Kg 2.152 juta Kg atau naik 3,7% pada akhir 2026.

Sementara itu, subsidi listrik mencapai 42,9 juta pelanggan atau tumbuh 2,2%. Kemudian, subsidi pupuk telah mencapai 2,9 juta ton atau naik 25,2% dan subsidi debitur KUR mencapai 1,54 juta penerima.

Purbaya pun menuturkan skema pembayaran subsidi dan kompensasi yang dibayarkan tiap bulan terhadap Pertamina dan PLN berdampak baik pada keuangan keduanya.

"Belanja subsidi dan kompensasi untuk menjaga daya beli masyarakat, ya kami bayar sesuai dengan yang diminta oleh PLN dan Pertamina. Kan sekarang sudah betul Januari-Maret, subsidinya selalu kita bayar penuh dan untuk kompensasinya kita bayar 70%-70% dan itu yang membuat keadaan finansial Pertamina lebih bagus dibandingkan tahun-tahun sebelumnya," papar Purbaya.

Dengan perbaikan finansial BUMN energi ini, maka Pertamina dapat dengan mudah mengamankan pembelian minyak tambahan, sekalipun dengan harga tinggi.

Target Prabowo dalam Cetak Biru RAPBN 2027

Presiden Prabowo Subianto membacakan poin-poin asumsi makro dalam pidato penyampaian dokumen Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) Tahun Anggaran 2027 yang disampaikan Prabowo di Sidang Paripurna, Rabu (20/5/2026).

Dalam pidatonya, Prabowo mencanangkan nilai tukar rupiah pada level Rp 16.800 - Rp 17.500 per dolar AS pada 2027. Asumsi dalam KEM-PPKF ini akan menjadi cetak biru RAPBN 2027.

"Nilai tukar kita jaga di Rp 16.800 - Rp 17.500 per dolar AS. Strategi fiskal dan moneter harus strategi yang mampu untuk menjaga nilai tukar kita tetap stabil terhadap mata uang dunia," tegasnya.

Adapun, dalam cetak biru ini, Prabowo mencanangkan asumsi makro a.l. inflasi 1,5%-3,5%, pertumbuhan ekonomi atau PDB RI 5,8%-6,5%, suku bunga SBN 10 tahun 6,5%-7,3%, lifting minyak 602 ribu-615 ribu barel per hari, gas 934 ribu - 977 ribu barel setara gas per hari dan harga minyak (ICP) US$ 70-95 per barel.


(pgr/pgr) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Dasco Kumpulkan Himbara, Perbanas, & Danantara Bahas Bank & Saham