MARKET DATA
Internasional

Iran Sandera Ekonomi Dunia, Bola Panas di Tangan Trump

tfa,  CNBC Indonesia
09 June 2026 20:20
Vessels anchored at the Strait of Hormuz, as seen from Musandam, Oman, May 25, 2026. REUTERS/Stringer REFILE - CORRECTING INFORMATION FROM "VESSELS SAILING THROUGH THE STRAIT OF HORMUZ" TO "VESSELS ANCHORED AT THE STRAIT OF HORMUZ".
Foto: REUTERS/Stringer

Jakarta, CNBC Indonesia - Kebuntuan negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dinilai bukan sekadar persoalan diplomasi biasa. Di mata sejumlah pengamat dan mantan diplomat yang pernah terlibat dalam pembebasan sandera Amerika di Iran, pola yang digunakan Teheran saat ini menyerupai taktik negosiasi sandera yang telah lama diterapkan Republik Islam tersebut.

Mantan diplomat AS yang pernah terlibat dalam perundingan pembebasan warga Amerika di Penjara Evin menilai Iran selalu memandang negosiasi melalui konsep "kepemilikan". Ia menggambarkan pengalaman berhadapan langsung dengan pejabat keamanan Iran dalam berbagai negosiasi sandera.

"Mereka memiliki sesuatu yang kita inginkan, dan mereka akan menahannya sampai kita bersedia membayar harga yang cukup," tulisnya, seperti dikutip dari CNN International, Selasa (9/6/2026).

Menurutnya, pendekatan ini berbeda dengan Washington yang umumnya mengandalkan tekanan ekonomi, sanksi, dan kekuatan politik untuk memaksa lawan memenuhi tuntutan. Sebaliknya, Teheran berusaha meningkatkan nilai tawarnya dengan menguasai aset atau kepentingan yang dibutuhkan pihak lain, lalu menahannya hingga memperoleh konsesi yang diinginkan.

Pola tersebut terlihat jelas dalam kesepakatan pertukaran tahanan pada September 2023. Saat itu, AS dan Iran menyepakati pembebasan lima warga Amerika yang ditahan di Iran. Sebagai bagian dari kesepakatan, Washington menyetujui transfer dana Iran senilai US$6 miliar atau sekitar Rp108,57 triliun dari Korea Selatan ke Qatar melalui mekanisme khusus yang hanya dapat digunakan untuk transaksi kemanusiaan.

Namun, situasi berubah drastis setelah serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023. Washington kemudian kembali membatasi akses Iran terhadap dana tersebut, sehingga hingga kini dana itu tetap tidak dapat digunakan secara bebas oleh Teheran.

Kini, menurut analisis tersebut, Iran menerapkan logika yang sama dalam skala yang jauh lebih besar. Jika sebelumnya yang dijadikan alat tawar adalah warga negara AS yang ditahan, kali ini yang dipertaruhkan adalah akses terhadap Selat Hormuz, salah satu jalur energi paling vital di dunia yang menampung sekitar seperlima perdagangan minyak global.

Pandangan itu diperkuat oleh pernyataan penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei. Ia menyatakan Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali sebelum AS melepaskan aset Iran yang dibekukan senilai US$24 miliar atau sekitar Rp434,28 triliun.

"Anda harus melepaskannya. Jika Trump menganggap negosiasi ini serius, maka US$24 miliar ini adalah ujian kepercayaan. Ini adalah ujian yang harus dilewati Amerika," kata Rezaei.

Permintaan tersebut mencakup dana US$6 miliar yang sebelumnya menjadi bagian dari kesepakatan pertukaran tahanan tahun 2023. Bagi Teheran, tuntutan itu menunjukkan bahwa pembicaraan saat ini dipandang sebagai kelanjutan dari model negosiasi yang sama, hanya dengan nilai taruhan yang jauh lebih besar.

Di sisi lain, pemerintahan Presiden Donald Trump berupaya membalikkan posisi tawar Iran melalui tekanan ekonomi yang lebih agresif, termasuk upaya menekan ekspor minyak negara tersebut. Strategi itu bertujuan menciptakan kerugian ekonomi yang lebih besar bagi Iran dibandingkan keuntungan yang bisa diperoleh dari mempertahankan kebuntuan.

Meski demikian, para tokoh garis keras yang kini memiliki pengaruh besar di Teheran diyakini tidak mudah mengubah sikap. Iran menilai AS menghadapi tekanan ekonomi global yang meningkat akibat terganggunya perdagangan energi dan jalur pelayaran internasional, sehingga Washington dianggap lebih membutuhkan kesepakatan dibandingkan Teheran.

Kondisi tersebut membuat pilihan AS semakin terbatas. Washington dapat terus bertahan sambil menunggu tekanan ekonomi menghantam Iran, membayar tuntutan yang diajukan Teheran demi memulihkan kondisi sebelum konflik, atau mengambil langkah militer untuk mengamankan jalur pelayaran strategis tersebut. Namun masing-masing opsi membawa risiko politik, ekonomi, maupun keamanan yang besar.

Selama keseimbangan daya tawar belum berubah, Iran diyakini akan terus mempertahankan aset strategis yang dimilikinya. Akibatnya, negosiasi antara kedua negara berpotensi tetap berada dalam kondisi buntu, tanpa terobosan berarti dalam waktu dekat.

(tfa/luc) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Breaking News: AS-Iran Mau Deal, Selat Hormuz Dibuka-Gencatan Senjata


Most Popular
Features